Cinta Kita Terhalang Syahadat : Chapter 2 - Bidadari Pada Lensa Kameraku

" Taka kun, selamat ya fotomu dipuji hebat oleh sensei, katanya akan masuk dalam pameran minggu depan "
" Eh? " Aku terkejut dengan penuturan temanku
" Arere??? Belum tahu?? "
Hanya kujawab dengan senyuman dan gelengan yang dibalas dengan pukulan di kepala oleh temanku itu.
" Sana temui sensei "
" Ah..ok "

Kulangkahkan kaki menuju ruangan sensei, namun kudapati sensei berbincang dengan panitia pameran di depan ruangannya. Melepas kepergian si panitia, beliau menoleh ke arahku dan mengajakku masuk.
"Subarashii Taka, subarashii. Foto ini benar2 masterpiece. Aku tak menyangka kamu mendapat obyek sebagus ini. Atau hanya kebetulah eh? " Sensei mulai menggodaku yang memang jarang sekali mendapat pujian di kelas fotografi ini.
" Ah sensei, terima kasih "
"Baiklah, aku akan memilih foto ini untuk dipasang di tengah2 lokasi, agar semua orang dapat melihat kecantikan yang berpadu dalam keindahan latar obyeknya. Ngomong2 apa judul foto ini? "
"Innocent Angel" jawabku singkat. Raut muka sensei sedikit terkejut namun kemudian tersenyum penuh arti.

Keluar dari ruangan sensei, aku kembali ke ruang klub fotografi ini, kutarik kursi di pojokan, dan kubuka kembali cetakan foto yang menjadi pilihan sensei untuk dibawa ke pameran. Tiga lembar foto tentang dia yang tak ku tau namanya, tapi selalu mengganjal hari-hariku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto pertama aku ambil secara tidak sengaja. Di jembatan merah dengan bunga sakura merah jambu di tepi sungai. Lima burung bersayap warna-warni hinggap di sisi kanan tiang jembatan, sedangkan tiga burung mengitari pohon sakura dengan cantiknya. Aku ingin menjadikannya sebuah foto alam yang bagus. Kemudian dia datang dengan teriakannya.
" Waaahhhh cantiknyaaaaa "
" Heii jangaaan kesana, sedang ada yang mengambil gambar!!! "
" eh?? " dia menoleh tepat ke arah kameraku, dan burung-burung itu terbang dengan terkejutnya.

Rasanya kesal sekali, tanpa sadar ternyata aku telah mengambil gambar itu. Kukira gambarnya akan menjadi sangat buruk, namun ternyata ekspresi polosnya berpadu dengan gerakan terbang burung2 serta keindahan latar belakangnya menjadi sebuah momen yang sangat indah.

" Maaf...sekali lagi maafkan aku" tanpa sadar dia mendekatiku.
" Ah tidak, tidak apa2 "
" Aku tak tahu ada yang mengambil gambar. Maafkan aku. Aku traktir ya sebagai permintaan maafku "
" Ah terima kasih tapi maaf aku buru2 harus kembali pulang"
" Oh begitu, sekali lagi maaf "

Dan aku berlalu, hanya berlalu. Dalam hati, aku menyesal mengapa ku tolak ajakannya. Pikiranku berkecamuk, dan tanpa sadar aku terus memandangi foto itu, mengagumi sesuatu yang aku sendiri tak tahu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu bulan berlalu, namun tak bisa aku lupakan gadis itu. Mungkin karena fotonya aku pajang di mejaku, ku hias dengan pigura motif momiji. Aku hanya ingin terus memandanginya, tanpa berharap akan bertemu kembali. Namun takdir berkata lain, kembali dia muncul saat aku hampir melupakannya ditengah penat tugas2ku.

Saat itu matahari bersinar sangat cerah. Aku kembali dari universitas dan sejenak melepas lelah dengan masuk ke kombini. Segelas es krim strawberry paffete dan potato chips aku beli kemudian duduk di dalam kombini sambil memandang keluar. Dari kejauhan terlihat rombongan anak-anak TK sedang berjalan dipandu oleh 2 orang guru dan beberapa wanita muda, sepertinya mereka mahasiswi.
Mataku tertuju pada gadis bertopi putih terhias pita warna biru langit, dengan blouse putih serta rok pendek warna biru senada dengan pita di topinya. Menggandeng dua anak TK sambil bernyanyi terlihat sangat keibuan dan..........ah....cantiknya.

Dia!!! Itu dia!! Bidadariku!!! Bidadari yang tertangkap oleh kameraku bulan lalu. Secepatnya aku mengambil kameraku dan keluar dari kombini. Kubiarkan tasku tertinggal, aku tak ingin kehilangan dia.
Dibawah cerahnya matahari, dan ditengah lucunya anak2 TK itu aku berhasil mengabadikan gambarnya, saat dia berputar menari di tengah2 anak-2 kecil itu.

Sial!! Aku lupa mematikan shouter sound kameraku. Rupanya dia menyadari aku mencuri gambarnya. Dia menoleh dan berhenti. Sejenak aku terdiam, dia memperlihatkan wajah itu lagi. Membuat dadaku terasa sesak. Bodohnya aku, hanya tersenyum kemudian menunduk dan berbalik kembali ke dalam kombini. Kulihat dari kaca dia masih memperhatikanku dengan wajah keheranan sesaat kemudian dia kembali menyusul rombongan. Dan aku....pergi beranjak dari tempatku melalui pintu lainnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinta itu tak terasa tumbuh di hatiku, melalui lensa kameraku kubidik dia dari kejauhan. Namun aku ak berani mengungkapkannya, bahkan berkenalan pun aku tak sanggup. Ya, memang aku terlalu pengecut untuk hal satu itu. Aku harap dia menangkap perasaanku lewat gambar2 ini.

Foto terakhir aku ambil saat kuberanikan diri mendekatinya di malam tahun baru China. Dia datang bersama salah seorang temanku saat kami pergi makan di sebuah restoran China. Aku bahkan tak tau dia juga berada satu universitas denganku. Di tengah cahaya lampion di China Town kuberanikan diri berbicara padanya.
" Maaf, boleh aku ambil gambarmu satu kali saja? "
Dengan senyum tersipu dia berkata,
" Ah kamu lagi, aku tak pandai berpose " sambil memandang ke arah hiasan lampion seraya berkata " alangkah indahnya jika kamu mengambil gambar lampion2 itu, cahaya bulan sampai kalah terang" kemudian tertawa, manis sekali.
Entah dorongan apa yang membuatku membidikan kameraku ke arahnya
"Hei, ayo senyum"
Dan dia tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dengan ekspresi yang lucu, cantik sekali. Setelah itu dia pergi, dan aku masih terpaku di tengah hujan cahaya, menyadari bahwa aku jatuh cinta pada bidadariku yang hanya bisa kuungkapkan lewat bidikan kameraku. Setiap hari, setiap ku bertemu dengannya, hanya mampu memandangnya dari kejauhan, lewat lensa kamera ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
" Taka, kenapa masih disini? Ayo pulang "
Suara temanku membuyarkan lamunanku
" Masih penasaran dengan gadis itu eh? " canda temanku sambil berkelakar, "tanyalah Junpei, dia yang membawanya saat pesta kemarin"
" Berisik kau " kataku sambil keluar ruangan diiringi kelakar temanku.

Ah....aku memang pengecut dalam cinta.

ilustrasi
Previous
Next Post »