My Journey: Dear My Deer Nara

Kalu kemarin saya sudah bercerita tentang 1 hari di Kyoto, nah keesokan harinya saya berangkat ke Nara.

Jadi saya bangun jam 6 pagi setelah tidur part 2 setelah subuh, dan mandi karena takut antri, disaat semua orang sedang terlelap.
Setelah mandi, saya berpakaian dan tidur lagi sampai teman saya membangunkan untuk mengajak beli sarapan. Nah, kita ngeceng pagi2 tapi yang dapat cuma anak2 SMP yang ramai2 godain kita, hadeeeeh


Gambar diatas bisa melihat posisi saya??? Itu benar2 tertidur lagi

Ngeceng di pagi buta
Dan kemudian setelah sarapan, kita kembali berangkat ke stasiun dengan tujuan Nara. Dan ternyata sampai di Nara, kita kebablasan satu atau dua stasiun, jadi pemberhentiannya jauuuuuuuh sekali. Terpaksa kita bayar kelebihan stasiun dan juga kita harus naik Taxi biar cepat sampai tujuan. Sebenarnya saya heran lho, kenapa ga pake kereta lagi?? Tapi ya sudahlah, merelakan beberapa lembar ribuan yen untuk taxi.

Sampai di Museum Nara, kamu disambut oleh biksu kepala kijang. Eh ini patung aja sih hehe.
Di musium Nara, kami melihat kenyataan bahwa lebih dari 70 tahun yang lalu, Jepang itu keadaannya sama dengan Indonesia. Air ga bisa langsung diminum, pertanian pakai tangan, mbajak sawah pake sapi (ga ada kebo), metik teh pake tangan. POkoknya sangat mirip sekali dengan keadaan Indonesia saat ini. Mungkin 70 tahun yang akan datang Indonesia bisa seperti Jepang sekarang. Aaah semoga saya diberi umur panjang agar dapat merasakan Indonesia maju.

Bersalaman dengan biksu kepala kijang. Eh matamu lihat kemana sih???

Jaman dulu Jepang juga pakai tangan nyawahnya

Setelah puas berkeliling di Museum Nara, dan mencatat semua yang dibutuhkan untuk pembuatan laporan. Kita berangkat menuju ke Toudaiji Temple yang katanya buanyak kijangnya.
Tapi...lagi2 pakai Taxi, dan taxinya kurang 1 mobil, alhasil saya dan Kawaguchi sensei, Mbak Ewi serta Hara harus tinggal selama kurang lebih hampir 1 jam untuk menunggu taxi.

Setelah taxi datang, kami lagsung ke Toudaiji Temple dan sepakat untuk langsung makan siang terlebih dahulu.
Setelah makan siang, nah...ini yang ditunggu2.....masuk ke sana dan bertemu.........jeng jeng jeng!!!

Inilah yang saya cari!! Kijang

Kijangnya jinak2 dan kita boleh memberi makan dengan shikasenbe atau kerupuk kihang seperti yang dimakan kijang itu.
lucuuuu....

Tapi tapi tapi...kemudian saya bertemu rombongan Zaya, Trang bersama Satoru dan Adachi (sepertinya kencan ganda mereka), dan kami bercanda sambil menunggu rombongan yang lain. Kemudian saya memutuskan untuk masuk ke toko untuk melihat apakah ada yang bisa dibeli untuk oleh2.
Dan saya membeli gantungan kunci, untuk Sofa yang sudah saya janjikan mau memberi sesuatu khas nara.
Selesai membayar, saya keluar...lho???? Koq ga ada teman2??? Waduh mampus nih pikir saya, aku sendirian. Celingak celinguk kayak orang ilang, akhirnya ketemu dengan rombongan Ogawa dan Nagayanagi bersama 1 anak China namanya Cho. Ah alhamdulillah.

Setelah gabung dengan rombongan Ogawa, kami berlanjut masuk ke Toudaiji Temple nya. Buesaaaaaaaaaaaaar sekali.
Toudaiji Temple, lihat noh dari kejauhan, ukuran manusia dengan kuilnya seberapa bandingannya!

Begitu masuk ke pelataran Toudaiji, entah kenapa si Nagayanagi dan Cho menghilang, dan tinggal saya bersama dengan Ogawa. Desas desus yang menyebut bahwa Nagayanagi sedang pdkt dengan Cho mungkin benar mreka memisahkan diri, dan saya bersama Ogawa saat itu lebih mirip seperti anah dan ayah, karena saya kueciiiiiil banget berjalan di sebelahnya, dia tuingiiiii banget. Iseng saya tanya, tingginya ternyata 184cm. Sedangkan saya 153 cm. Oooooohhh bayangkan saja perbedaannya!!!

Ogawa yang semula saya pikir pendiam, ternyata orangnya asyik dan baik. Dan termasuk orang jepang yang smart dan berada di jalan yang lurus alias gak neko2 (kayak yuan gitu lah). Dan dia juga seorang tourist guide yang baik, meski beberapa kali kami zonk dalam percakapan karena saya kurang paham bahasa Jepang, dan dia kurang paham bahasa Inggris hahaha.


 Ogawa memraktekkan tata cara berdoa menurut orang Budha Jepang

Setelah keliling2 kemudian kita mendapat telepon dari Adachi, menanyakan dimana, dan kemudian kita ke tempat mereka berkumul. Ternyata kami rombongan terakhir bersama dengan Nagayanagi dan Cho. Sudahlah langsung jadi bahan ledekan semuanya. Dan saya harus bilang berkali2 bahwa saya sudah punya pacar dan itu bukan sebuah date!!!! hahaha

Pulang dari Toudaiji, kita ke stasiun dan lanjut pulang ke Gifu. Kami terpisah lagi rombongannya. Saya bersama Zaya, Zuhud dan Trang naik kereta biasa. Dan ternyata di kereta kita bertemu Du dan para cina lainnya dan juga Nagayanagi. Setelah itu kita pulang sampai gifu. Kami berlima bersama Du lanjut makan malam di cafe Joyfull.

Sewaktu makan di Joyfull hampir tengah malam

Akhirnya selesai juga cerita perjalanan saya di Kyoto dan Nara. Beberapa bagian harus di sensor demi terlihat menariknya cerita hahahaha. Biarlah, cukup saya dan mereka yang tahu, yang penting ceritana menghidup dan membuat kalian bersemangat untuk terus menggapai cita2 ^_^




Previous
Next Post »