Cinta Kita Terhalang Syahadat : Chapter 8 - Galau

Kicauan burung gagak pagi ini membangunkan nyenyak tidurku semalam. Entah kenapa ada perasaan lega pagi ini, tidak ada alarm otomatis dari telepon genggamku. Biasanya setiap pagi, Rahma selalu cerewet membangunkanku dengan missed callan yang tak tanggung2. Bahkan kadang aku sampai memasukkan teleponku ke dalam lemari pakaian sebelum tidur.

Gadis itu, kalau sudah mengomel akan terasa menyebalkan, jarang sekali melihat senyum di wajahnya ketika bersamaku. Hanya omelan, keluhan dan perintah melebihi mamaku. Dan ngambeknya yang mengerikan, aku sampai tak tahu harus berbuat apa selain menuruti keinginannya yang kadang tak ingin aku lakukan.

Kuambil gelas kaca dan kuisi setengahnya dengan air dingin. Ah..baru sadar, kemarin...yah mungkin karena kejadian kemarin, Rahma hari ini diam dan berhenti mengganggu pagiku.

Hari kemarin dia merengek meminta diantar ke hypermarket, aku mengantarnya dengan enggan. Dalam perjalanan dia terus menerus berbicara tentang pernikahan, dan aku menjawabnya dengan risih dan enggan. Dalam hati, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita yang tak kucintai, yang tak aku suka pun sifatnya. Dan terus aku mengutuk diriku sendiri karena terus bersamanya. Juga mengutuk teman2 yang dulu mendesakku agar jalan dengan Rahma. Tidak, bukan salah mereka, ini salahku yang kurang tegas.

Sesampainya di dalam hypermart, secara tak sengaja kami bertemu dengan dia...gadis yang telah mencuri hatiku dan pandanganku. Berjalan sendiri dan terlihat sedang memilih futon (kasur tipis). Rahma menyapa dia dengan senyum yang tak pernah dia tunjukkan bila sedang berdua bersamaku.

"Haii....apa kabar???" Sapa Rahma
" Eh kak Rahma, cieeee sedang pacaran ya " kata dia sambil menggoda kami.
" Enggak ini lagi mau ada yang dicari, mau beli futon? " kataku cepat
" Iya nih kak, tapi bingung futonnya mahal semua hahaha"
" Sama siapa kesini? " tanya Rahma
" Sendiri kak, mau sama siapa lagi? Kan saya ga punya pacar hahahaha" canda dia
" Futonnya kenapa kamu?" tanyaku cepat
" Hih kak Rey bener2 ga bisa diajak bercanda! Kebakaran kemaren! " kata dia sambil bersungut
" Kamu apain sampai kebakaran gitu? ga kenapa2 kan rumahmu?" aku mulaikhawatir dengan dia
" Lupa nyabut listrik setrikaan di atas futon terus ditinggal kuliah, pulang2 sudah berasap hahaha"
" Cinta......kamu ini hati2 donk makanya. Mau beli baru? Kamu kan tinggal beberapa bulan lagi disini, apa ga rugi tuh?"
" Enggak kak Rey, kan nanti kalo saya pulang bisa buat teman2 lain yang baru datang, atau saya mau lanjut ke master berarti masih disini lebih lama"
" Yaudah nanti bawanya gimana?
" pakai sepeda donk kak Rey, masak ditenteng naik bis, bisa dipelototin penumpang lainnya"
" Yaudah bareng aja di mobilku, ambil sepedanya besok2 aja"
" Tunggu Rey, kita kan habis ini mau ke tempat lain" Cegah Rahma dengan tatapan yang mulai tidak menyenangkan bagiku, " Biarkan aja kalau dia maunya naik sepeda, belum tentu juga dia mau naik mobil kita, ya kan Cinta??"
Cinta terlihat bingung sesaat, namun akhirnya tersenyum dengan sangat manis
" Iya kakak2 semua, saya ga mau mengganggu pacaran kalian, lagipula saya bawa tali rafia lho, jadi aman "

Entah karena dorongan apa, tiba2 aku melontarkan pertanyaan yang membuat diriku sendiri terkejut.
" Cinta kenapa sih ga pernah mau kalau aku tolongin? Selalu menolak, kemarin waktu menangis di dekat kolam bebek, aku antar pulang juga ga mau, dulu waktu jatuh sampai kaki berdarah juga ga mau diantar pulang."
Aku melihat Rahma membelalakkan mata, mungkin dia tak mengira aku akan mengucapkan kalimat seperti ini. Lebih terkejut lagi Cinta, dia memandangku dan Rahma bergantian.
" Saya? haha saya ga enaklah, nanti dikira macam2 lagi sama kak Rey, dan kak Rahma. Sudah ah, saya buru2 mau ambil barang lain juga. Dadah kakak2 semua"
Cinta bergegas mengambil salah satu futon dan memasukkn ke dalam keranjang belanjaan dan pergi ke bagian lain.

Aku merasakan atmosfer yang tidak enak dari Rahma, wah ngambek lagi nih pikirku. Tapi entah kenapa aku lega sekali.
" Kamu tak pernah segitu perhatiannya sama aku" kata dia dengan wajah masam.
" masak sih? "
" Aku bahkan ga tau kamu ketemu dia di kolam, waktu dia jatuh dan mungkin masih banyak lagi kalian ketemu diam2" cercanya
" Hei hei, ga usah mulai ngawur deh, udah buruan apa yg mau dibeli, habis ini aku ada sampling"
" Kamu suka kan sama Cinta?" aku diam dan terus berjalan. Rahma berhenti dan mulai menangis, dia ulangi pertanyaannya " Kamu suka kan sama Cinta?? Aku tahu, dari dulu aku sudah tahu itu"
" Ayo jalan, buruan apa yang mau dibeli" aku tak mau lagi meladeni pertanyaan itu lagi. Aku hanya tak ingin menyakiti siapapun, meski hatiku sendiri sakit, tapi aku tak ingin menunjukkan itu.
" malu dilihat banyak orang, kita bicara di mobil aja" kataku, namun dia hanya meraih keranjang dan berjalan dengan diam.
" Aku tanya sekali lagi, Rey, kamu suka sama Cinta?"
" kamu ingin jawaban apa dariku? " aku sudah mulai malas dengan tingkah Rahma
" Terserah"
" Iya aku suka sama dia" jawabku lirih, kulirik dia menghapus air matanya.
" aku tak tahu kenapa kamu bisa menyukainya. Apa karena dia lebih cantik dari aku? hah, padahal dia tidak pernah disukai oleh teman2, bisa2nya kamu suka dengan orang yang dijauhi"
Aku marah dengan ucapannya, sangat marah
" Apa kamu mengenal dia seperti apa? jaga mulutmu, ga malu ya mahasiswa S3 bisa ngomong kayak gitu tentang orang lain "
" aku ga peduli, dari dulu kamu selalu memperhatikannya, aku ga pernah ada dalam matamu, apalagi hatimu. Teman2 semua mendukung kita, mendukung aku, mereka tidak menyukai dia, kenapa kamu justru mendekatinya?'
"kita bicara dimobil saja" sahutku dengan sedikit risih
" gak bisa, aku ingin selesai sekarang"
" baiklah" aku berhenti dan menoleh ke arahnnya, sedangkan orang2 yang melewati kami memandang dengan heran, " aku menyukainya karena sifatnya yang sesungguhnya, perjuangannya, survive-nya, dia tak pernah peduli orang2 sebangsanya menjauhinya karena sesuatu hal yang dia tak tahu, dia merasa tak pernah berbuat salah, dan memang kenyataannya seperti itu. Kalian hanya iri, hanya emosi kekanakan dengan cara selalu mencacinya dibelakang, tapi di depan bersikap sangat manis. Kamu pikir dia tak tau itu? Dia tau, tapi dia selalu bersikap baik dengan kalian, dengan kamu yang begitu membencinya. Kamu, kenapa kau tak bisa menyukaimu? aku tak tau, tapi bersamaku, kamu bahkan tak pernah menunjukkan senyum, kamu terlalu dominan, dan dari awal, hatiku memang tak menaruh perasaan terhadapmu, maaf. Sebenarnya aku tak tahu kenapa aku menyukainya, tapi, yang kurasakan memang begini adanya, aku mencintai dia, maaf, aku tak ingin menyakitimu, tapi kamu yang memilih untuk membicarakan ini. Aku ingin tegas, aku menyukai Cinta"

"BRAKK" kami dikejutkan dengan suara barang jatuh dibelakangku. Aku menoleh, Cinta berdiri dengan tegang
" ma..maaf, saya tak sengaja lewat. Maaf " dia bergegas ingin pergi namun aku tarik tangannya. Entah apa yang ada di pikiranku, seketika aku mengucap " Cinta, aku suka kamu"
Cinta terlihat sangat bingung dengan keadaan ini. Dan Rahma tiba2 berlari dan pergi keluar dari hypermart.
Cinta mengejar Rahma, berteriak memanggil namanya, dan aku masih terdiam di tempat.

Ah...aku mengutuk diriku sendiri dengan ini. Disatu sisi aku tak tega membuat Rahma menangis, namun disatu sisi aku lega karena apa yang selama ini aku pendam dapat keluar juga.
Cinta kembali dan sendiri.
"PLAK!!" dia menampar pipiku.
" Kak Rey jahat! Ga seharusnya kakak berkata seperti itu terhadap orang yang sayang sama kakak, di depan umum, di depan banyak orang"
" Dia yang menginginkannya, dimana dia?"
" Sudah pulang masuk ke bis. Kakak tak seharusnya seperti itu" dia mengambil keranjangnya dan berlalu
" Cinta, tunggu." Dia menoleh " Kamu, ada perasaan sama aku?"
" Aku gak berhak untuk mengungkapkannya. Aku cukup tau diri"

Kemudian dia berlalu ke kasir, aku melihatnya pergi dengan cepat, kulihat dia menyeka air mata.

***

ddrrrrttt dddrrrtttt dddrrrrttt, kuambil telepon genggamku, tertulis "Safitri", adikku.
" Ya "
" assalamualaikum kak, sehat kak?"
" wa'alaikum salam, sehat fitri, ada apa nih tumben pagi2 banget udah telpon"
" Barusan mama ditelpon orang tua kak Rahma, mereka minta pertunangan dipercepat, minggu depan. Mereka bilang bulan depan ingin kakak segera menikah dengan kak Rahma"
" Apa!!!!"
" iya, mama ingin tanya kakak ga papa? bentar nih mama"
" Rey, gimana dengan kamu nak? Mama ingat cerita kamu waktu lebaran kemarin bahwa menyukai gadis lain, bagaimana dengan sekarang? Mama didesak untuk segera melamar Rahma"
" Ma.....Rey belum siap untuk menikah. Dan...Rey masih menyukai Cinta, Ma... Maafkan Rey membuat Mama dalam masalah"
" Tak apa, Rey, pikirkan kebahagiaanmu, keinginanmu, namun tetap jangan pernah kamu menyakiti perasaan orang lain. Selesaikan secara baik karena kamu memulainya dengan baik. Mama akan meminta waktu untuk mundur. Mama minta Rey bersikap dewasa. Mama tau, Rey bisa. "
" Makasih ma...."

Telepon ditutup dan aku duduk termenung. Rahma.....aku pikir dia akan marah dan memutuskan aku. Aku sudah sangat berharap itu terjadi, namun kenapa justru dia menginginkan pernikahan denganku??? Aku tak mengerti dia.........
Previous
Next Post »