Cinta Kita Terhalang Syahadat : Chapter 9 - Love

Purnama nan indah, terlihat menantang mataku lewat sela tirai jendela yang tak kututup sempurna.
Kuhisap batang rokok terakhir sembari menerawang jauh ke arah purnama. Entahlah apa yang kurasakan akhir2 ini benar2 diluar kebiasaanku. Ada yang salah dengan diriku. Jantungku sering berdetak kencang. Aku tak mengerti sejak kapan aku punya kebiasaan khawatir berlebihan. Tapi dengan Cinta, seakan dia adalah sebuah permata berharga yang sangat rapuh dan aku harus menjaganya dengan hati2. 

Tapi sejak pertengkaran itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Kalaupun berpapasan, dari kejauhan pun dia sudah menghindariu, memilih untuk melewati jalan lain daripada harus berpapasan denganku. Sebenarnya tak masalah bagiku, jika perempuan lain yang melakukannya, namun dia?? ah..dada ini menjadi sesak.

Memang salahku, saat aku dikuasai cemburu, aku mencengkeram kuat lengannya. Dia meronta kesakitan, namun masih tak kupedulikan permintaannya. Aku terlalu cemburu. Aku tak mengerti mengapa, padahal hanya sebuah pameran fotografi yang mungkin saja kebetulan terambil. Ah entah dimana logikaku.

Aku tak pernah menyentuhnya. Sekalipun. Berjabat tangan pun tak pernah. Apalagi mencumbunya meskipun aku sangat ingin. Tapi sekali aku menyentuhnya, aku lakukan itu dengan sangat kasar dan meninggalkan kesan yang andai bisa kuputarbalik waktu, tak akan kulakukan itu. Aku tak ingin menyakitinya. Sungguh.

Aku tau dia menaruh hati padaku. Sempat. Dia mungkin tak peduli dengan kebiasaanku yang sering berganti wanita sebagai teman tidur. Sempat begitu. Dia mungkin satu2nya yang sering membangunkan pagiku dengan ocehannya dari jendela kamarku. Sempat dia lakukan itu. Dia mungkin satu2nya yang menemaniku bekerja malam di laboratorium meski kita berbeda ruang kerja. Sempat menjadi penyemangatku. Dan kini aku benar2 merindukannya. Sangat merindukannya.

Aku benar2 merasa bersalah. Entah mengapa. Aku tahu bahwa dia mempunyai trauma dalam percintaan sebelumnya. Dia harus merelakan hatinya menangis sedangkan mulutnya harus tersenyum sangat manis menyaksikan cintanya bersanding dengan orang lain. Dan sekarang aku menyakitinya dengan kebodohanku sendiri. Ah mungkin bukan hanya karena kekasaranku padanya, mungkin setiap hari hatinya perih menahan sakit atas kelakuanku? Bodohnya aku. Ah....

Kumatikan rokokku dan kutegak vodka dari botolnya. Kupandangi botol vodka, lama sekali. Ah ini pun mungkin membuatnya sakit hati. Mungkin ini yang selalu dia bilang sebagai perbedaan diantara kita.

Aku beranjak dari tempat tidur, kupakai pakaianku. Kutinggalkan wanita yang baru saja kutiduri. Ku ambil mantel dan kunyalakan kembali batang rokok baru dan keluar dari rumah ini. Kutelusuri jalan sambil ku buka telepon genggamku. Kutekan tombol call pada nomornya. 5 kali dia menolak panggilanku, tapi aku tak mau menyerah. Aku ingin menyampaikan sesuatu padanya. Sampai panggilan ke 27 dia baru menerimanya. Meski kata2nya menyakitkan, namun aku mencoba untuk tak lagi dikuasai emosi.

" Ruu!! Sudak berapa kali aku bilang, jangan pernah hubungi aku lagi! Ngerti!!"
" Cinta, aku ingin bicara sebentar, tolong, dengarkan"
" Oke kali ini yang terakhir. Cepat!!"
" Cinta...aku benar2 mencintaimu. Kumohon....maafkan aku. Aku akan berubah, please..."
" Itu saja? Ok makasih. Bye!!" tuuut....tuuut...tuuuttt.....

Telepon diputus...oh shit!!
Tapi paling tidak aku sudah menyampaikannya. Aku merasa lega sekarang. Akhirnya aku bisa mengucapkannya....kata2 yang lama sekali aku pendam.

Dan aku terus berjalan tanpa tujuan di tengah malam ini. Seketika salju turun perlahan. Menambah dinginnya perasaanku. Dan pikiranku masih tertuju pada dia.




Previous
Next Post »