Ketika Zaya Kehilangan Bahasa Inggris

Sahabat saya yang paling cantik, namanya Zaya. Berkali2 sudah saya ceritakan dalam blog ini, jadi ga perlu lagi perkenalan tentang dia. Jadi Zaya kembali ke negaranya, Mongolia (bukan cina ya), selama kurang lebih 35 hari untuk melakukan analisa laboratorium dan samppling sekaligus liburan.

Akhirnya tanggal 8 kemarin dia kembali pulang ke Jepang, dan baru esoknya saya bertemu dia di lab. Karena lama sekali tidak bertemu dengan dia, maka begitu saya buka pintu lab dan mendapati dia sudah duduk di mejanya, langsung saya peluk dia. Memang saya sangat merindukannya. Lab serasa sepi sekali tanpa 2 member lab yang suda dekat dengan saya, Zaya dan Yan Yang (dari cina).

Lucunya, ketika bertemu saya, Zaya hanya senyum senyum saja. Pas saya tanya kenapa, dia bilang dia merasa sangat "awkward" karena selama pulang kampung dia tidak memakai bahasa Inggris sama sekali, dan sekarang dia harus ngomong pakai bahasa Inggris. Dia menjelaskan itu dengan nada yang terbata-bata. Agak aneh terdengarnya. Suaraya pun berubah menjadi lebih berat dan besar. Dengan kata lain, dia lupa kebiasaan bercerita dengan bahasa Inggris.

Hari itu dia tidak pede untuk pergi kemanapun sendirian. Dimulai dari kantor BWEL, dia meminta saya menemaninya menyerahkan tiket pesawat dan selembar kertas untuk laporan bahwa dia sudah kembali. Kemudian dia minta ditemani ke ruangannya Prof. Li, ketua program BWEL untuk menyerahkan oleh2 dari ayahnya (ayahnya adalah seorang profesor besar di univ negeri mongolia-red). Setelah itu Li sensei ingin berbincang dengan Zaya, dan well saya tahu diri dan menunggu di luar ruangan. Dia sempat memegang tangan saya menyiratkan seolah2 "Tolong saya", dan saya bilang tidak apa2 "you can do it".

Ternyata diskusinya lamaaaaaa banget, 1 jam lebih sedikit saya mbathang di luar ruangan. Menghabiskan waktu dengan berfoto2 memotret objek2 acak. Sampai akhirnya Zaya keluar dan bercerita tentang isi pertemuannya dengan Li senseimasih dengan bahasa yang agak terbata.

Karena saya ada urusan di Fakultas Kedokteran terkait penelitian, maka saya meninggalkan dia di lab ingga enjelang malam. Pulang dari kampus, saya sempatkan mampir ke apatonya. Karena gelap saya telepon dia memastikan posisinya. Ternyata dia ada di rumah. Saya niat ingin mengejutkannya, saya berjalan ke arah belakang apartemennya dan menuju ke arah jendela. Kebetulan ruangan dia ada di lantai 1 jadi mudah sekali.

Tak disangka tak dinyana, saya melihat dia sedang di pojokan membaca sebuah buku yang kemudian saat masuk ke kamarnya baru saya tahu itu adalah kamus Mongol - Inggris :D

Zayaaaaa.....what happen with you???? LoL

Zaya
Previous
Next Post »