Coretan Pagi Hari : Berdamai dengan Diri Sendiri

We o We, ternyata sudah lama saya tidak ketak ketik menuangkan uneg2 di blog. Yah, bisa dibilang karena sedang sibuk bersenang2 menulis tesis, jadi kemampuan menulisnya teralihkan untuk yang lain.

Well, jadi beberapa waktu terakhir ini memang waktu2 galau kritis bagi saya. Bagaimana tidak, seolah semua masalah tumplek bleg jadi satu di waktu yang bersamaan. Keuangan, pendidikan, penelitian, keluarga dll. Stres berkepanjangan, nangis di lab (ini serius terjadi, tiba2 meneteskan air mata kemudian Zaya panik sedangkan saya tertawa melihat kepanikan Zaya), dan banyak sekali usaha untuk lari dari masalah.

Sampai suatu hari, ada waktu dimana saya berbincang via chat dengan salah seorang teman dekat saya, sebut saja inisialnya GDP, bukan pendapatan per kapita ya, itu GNP. Dalam sebuah nasehatnya untuk saya, adalah bahwa kita harus bisa beramai dengan diri sendiri. Hanya itu. Ketika saya balik bertanya caranya? kemudia dia tidak menjawabnya selama beberapa hari. Dia hanya bertanya : " Gimana? sudah tenang? "
Sok cool banget gak sih? -_-
But big thanks to him, karena akhirnya saya bisa menjadi lebih baik keadaannya <3

Nggak, tapi itu betul. Belakangan saya merenung dan menyadari bahwa ya, saya memang butuh untuk berdamai dengan diri sendiri. Bukan dengan masa lalu, bukan dengan masalah, bukan dengan linkungan sekitar. Tapi dengan diri saya. Meditasi melalui shalat dan berdzikir serta membaca Al Quran, benar2 saya perbanyak. Tenang.......sekali rasanya.

Kemudian saya yang begitu bodoh dan jahiliyahnya, selama masa itu saya menyadari betul, bahwa ternyata kalo berdzikir itu tidak harus dengan duduk diam, ternyata dengan bersepeda berangkat sekolah itu juga bisa. Dan itu menyenngkan sekali, hati ini rasanya tenang sekali. Rejeki mengalir aja. Tau2 ada yang mengirimi kue, ada yang mentraktir makan, tiba2 dapat kiriman uang. We o We sekali. Kemana hati saya selama ini???

Dan hasil akhirnya, saya pasrah. Ya pasrah dan sabar. Kesabaran itu tiada batasnya, itu memang benar. Dan saya sangat percaya bahwa Allah menyaangi orang2 yang sabar. Everything has surprises, kita gak tau akan jadi apa kita nanti. Everything happened by the reason, sesuatu itu terjadi karena ada alasannya. Dan sering kali kita memang tidak tahu mengapa kita begini, mengapa kita harus mengalami itu dsb.

Dan kita tugasnya memang pasrah. Hanya pasrah?
Tentu saja tidak.

Do the best. Itulah jawaban yang saya cari.

Do the best atau bisa kita katakan sebagai ikhtiar.

Lihat saja contoh dari permasalahan saya? Keuangan yang carut marut. Oh mungkin sebabnya karena saya kurang bersedekah. Maka perbanyaklah bersedekah. Saya percaya Allah itu tidak akan membiarkan saya mati kelaparan, walaupun Allah kadang membiarkan saya mempunyai banyak utang sih hehe. Tapi itu bagian dari ikhtiar saya, berhutang itu legal dimata Allah, dan Dia memberikan kesempatan untuk kita melunasinya.

Kemudian apa lagi?
Penelitian. Oh......ini masalah utamanya. Wku saya sangat terbatas sedangkan pengukuran sampel masih banyak. Lantas saya harus apa?? Tentu saja saya tidak bisa berbuat apa2 bukan? Saya toh tak bisa mengulur waktu, saya bukan pejabat universitas yang bisa seenaknya mengundurkan jadwal ujian.
Maka do the best inilah yang sedang saya lakukan.

Do the best yang bagaimana?
Read carefully, saya ambil contoh yang sedang saya jalani. Saya mempunyai total 24 sisa sampel yang harus saya teliti. Karena alatnya harus berbagi dan saya numpang di fakultas lain, otomatis saya mengikuti jadwal mereka. Saya hanya mendapat jatah 10 hari pengukuran sampai akhir desember. Padahal 1 sampel membutuhkan waktu 20 jam pengukuran. Saya juga masih punya 8 x 7 x 4 sisa sampel yang harus dianalisa lebih lanjut, tetapi kendala peralatan yang terbatas. Sedangkan saya harus mengumpulkan tesis sebelum tanggal 25 Desember.

Jadi bisa dibayangkan bukan mengapa saya stress??? :)
Tapi, saya sudah tak mau lagi berfikir keras tentang ini. Toh saya juga tak bisa melakukan apapun terhadap jadwal yang telah ditetapkan. Yang saya lakukan adalah, mengikuti jadwal. Melakukan pengukuran semaksimal mungkin, seteliti mungkin agar jangan sampai ada yang mengulang. Menulis pembahasan semampu saya.

Kan gak lengkap datanya?
Memang, tapi sampai batas waktu maksimal, itulah yang saya bisa lakukan. Sampai hari terakhir pengukuran, itulah batas maksimal kerja saya.

Setelah itu?
Saya percaya dengan pembimbing saya. Saya yakin beliau akan mengusahakan yang terbaik untuk saya. Dan saya yakin bahwa everything has a surprise, dan Allah tidak akan menguji saya kalau saya tidak mampu.

Jadi, ya sudah, saya nikmati waktu dengan lebih banyak tersenyum, berdendang, bersenang2. Dan tetap berdoa dan berusaha semaksimal mungkin.

Terdengar sangat terlambat untuk menyadari bahwa hidup ini terlalu indah untuk disia2kan dengan segala macam kegalauan dan permasalahan. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?? ^_^



Previous
Next Post »