Coretan Pagi Hari : Aku Bersyukur Atas Nikmat Yang Ku Miliki

Readers, pagi ini saya makan pakai 5 iris daging sapi di dalam kare yang saya masak sendiri semalam. 5 Iris besar dan enak, lezat sekali masakan saya. Kemudian tiba2 saja saya tertegun sebentar. Mengamati ketika saya sudah menghabiskan nasi dan sayurannya, namun daging saya baru dihabiskan 1 iris. Selalu begitu setiap kali saya makan. Dan setelah itu saya harus mengemil dagingnya sendirian tanpa nasi.

Kemudian tiba2 saja ingat ketika makan di kantin dengan teman saya. Satu ekor ikan panjang, dan saya hanya memilih bagian kepalanya saja, bukan dagingnya. Sehingga saya harus berjuang untuk menghabiskan daging ikannya tanpa nasi dan apapun setelah itu. Selalu begitu ketka saya makan.

Atau ketika saya makan ayam. Selalu saya menghabiskan nasi dengan kulitnya saja. Dagingnya tak pernah saya sentuh ketika makan. Lagi2 harus berjuang menghabiskan daging ayam setelah makan.  Itu susahnya mnta ampun karena perut saya kapasitasnya sudah full.

Bukan tanpa sebab saya melakukan itu semua, karena itu terjadi sangat natural. Hari ini saya merenung, kembali mengingat memori sampai 10 tahun yang lalu. Waktu saya masih di rumah, meyandang status sebagai siswa, bukan mahasiswa. Ketika umur saya masih belum genap 17 tahun.

Suatu hari bapak membawakan kamu berkat (makanan selametan ala jawa yang dibagikan ke orang2), berisi nasi sayur dan ada sepotong dada ayam besar lezat sekali. Bapak dan ibu biasanya mengalah tidak memakannya. Sepotong dada ayam itu adalah jatah untuk kami bertiga, saya, mega dan aldine adik2 saya.
Sejak sebelum aldine lahir pun saya selalu harus berbagi dengan mega. Mungkin karena mega dari kecil sangat suka denga daging (terbukti sekarang kedua adik saya tumbuh besar sekali), maka saya selalu mengalah, memakan kulit ayam saja atau sedikit daging ayam bila tak ada kulitnya. Dagingnya biasanya untuk adik2 saya. Jika ada sisa, maka kami akan memakannya malam atau esok paginya.

Begitu juga dengan ikan. Saya selalu memberikan daging ikan pada kedua adik saya ssecara naluriah, dan saya menikmati memakan kepala ikan hingga ke otaknya. Melihat adik saya makan dengan lahapnya, saya selalu merasa puas dan senang. Terdengar skeptis, namun itulah yang memang saya rasakan selama itu.
Kadang, ibu memasak sup, dengan hanya diberi sambelan (seplastik kecil daging sapi dengan berat kurang dari 100 gram), dan kami selalu makan dengan lahapnya, menyisakan daging untuk keesokan pagi.

Dan keudian saya seakan diingatkan bahwa begitu hidup saya lebih baik sekarang. Sangat lebih baik. Saya masih ingat ketika awal perkuliahan, ketika saya pertama punya pacar. Kami makan di warung makan dan saya "harus" menghabiskan 1 potong dada ayam besar. Saya benar2 tak sanggup, kemudian saya dimarahi karena menyisakan makanan. Setelah itu, saya selalu memesan ceker, atau paha ayam yang kecil saja.

Kemudian ketika saya benar2 pergi dari rumah, disini, ditempat yang saya benar2 hidup sendirian. Seiap hari saya memasak dengan ayam, daging, ikan atau udang. Saya makan sendiri. Porsi besar, porsi kecil, saya sendiri yang memakannya. Dulu, satu iris daging saya makan untuk satu kali makan, sekarnag 5 iris daging pun bahkan lebih saya sanggup memakannya sekali makan.

Hal kecil yang sangat remeh yang orang sering kali tidak menyadarinya.
Saya merasa bersyukur sekali. Inilah nikmat yang sebenarnya. Nikmat yang banyak manusia memlalaikannya. Nikmat yang banyak orang tidak menganggapnya.

Cobalah sesekali tengoklah ke belakang, ke masa lalu kita, masa kecil kita. Bagaimana kita dulu berjuang demi mendapatkan apa yang kita raih sekarang. Bagaimana keadaan dulu yang berbeda dengan yang saat ini. Maka itulah juga wajib disyukuri. Bukan hanya bersyukur bila uangmu banyak. Tidak, tidak. Mindset saya sudah berubah.

Aaah...hari ini terasa indah sekali.
Sejenak merindukan suasana rumah 15 tahun yang lalu. Rumah yang masih hanya dikelilingi anyaman bambu dan papan kayu. Ketika nenek buyut dan kakeh buyut saya masih hidup. Ketika aldine masih baru saja menghirup nafas di dunia. Ketika saya harus membagi sarimi rebus bertiga dengan adik dan bapak. Ramai sekali, hangat suasana di meja makan saat sarapan pagi.
Tanpa terasa air mata ini menetes lagi hahahaha.


Previous
Next Post »