Coretan Pagi Hari : Ajining Raga Saka Busana

Pagi ini ntah kenapa otak saya penuh dengan pikiran bundet yang benar2 minta untuk dituangkan idenya. Melihat fenomena belakangan ini seolah mengusik naluri saya untuk mengulas.

Ingat kata pepatah jawa kuno yang bapak saya sering ucpkan sewaktu saya kecil :
Ajining diri saka lathi
Ajining raga saka busana

Bahwa kualitas manusia dinilai dari 2 aspek : mulut dan pakaian.

Pakaian, busana, clothes atau apalah sebutannya. Pada jaman dibuatnya pepatah tersebut, mungkin benar adanya. Rakyat jelata pada masa itu hanya mengenakan selembar kain jarik yang dililitkan ke tubuh para perempuan. Dan celana selutut untuk kaum lelakinya, bertelanjang dada. Pakaian pada saat itu mencerminkan tingkatan ekonomi dan penghormatan bagi seseorang. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, maka semakin tertutuplah dia dalam berbusana. Dan kaum bangsawan memakai pakaian yang serba tertutup. Beskap, dan baju kebaya khas jawa untuk perempuan (saya lupa namanya hehe).

juliusmuseum.com


Namun coba kita tengok pertelevisian jaman sekaran. Kita lihat kaum sosialita yang asyik berlenggak lenggok di karpet merah diskotik, menenteng tas seharga puluhan bahkan ratusan juta. Baju yang mungkin juga harganya sama dengan tas nya. Tapi apa yang kita lihat? Mereka nampak seperti tidak berbusana.

Mereka yang kasarnya mampu membeli beratus2 meter kain untuk membuat baju yang anggun untuk menutupi tubuh mereka. Tapi mereka lebih memilih kain yangtak kurang dari satu meter untuk mereka pakai.
Belum lagi para prianya, dengan kain ketat yang hampir mirip seperti wanita, dengan bangga pula dipertontonkan.

Dunia seakan terbalik.

Orang desa yang ekonominya rendah, mereka berbusana sangat sopan, dan tertutup.

Entahlah.....tiba2 saja mood menulis saya hilang krn memikirkannya.



Previous
Next Post »