Aku dan Poligami

Membaca bayak sekali artikel tentang poligami, ada yang mendukung ada yang menolak. Bagiku tetap sama. Aku tidak mau poligami. Aku tidak suka poligami. Aku punya alasan mengapa aku begitu skeptis dengan masalah ini, dan pandanganku terhadap laki2.

Keluargaku. Ya dari sinilah berawal.
Nenek buyutku menikah dengan seorang tentara yang ganteng sekali, tinggi tegap badannya, putih kulitnya. Mungkin kalau jaman sekarang itu mukanya mirip dengan Rizal Gibran, tapi lebih putih kulitnya. Agak kearab2an sedikit (pantesan aja mukaku dibilang rada mirip arab). Setidaknya itu yang pernah saya lihat di memori foto.
Nenek buyutku sendiri cantik sekali, mungil, lansing, putih, dengan muka indo chinesse nampak seperti jkt 48 jaman dulu. Mereka menikah dan dikaruniai satu orang putri yg tak kalah cantiknya, yaitu nenek ku.

Entah umur berapa tepatnya, karena tugas sebagai seorang pembela tanah air jaman perang dulu, berangkatlah kakek buyutku ke luar daerah, meninggalkan nenek buyut dan nenekku yang masih kecil, mungkin masih balita. Sayang dia tidak kembali. Terdengar kabar bahwa beliau menikah lagi dengan wanita asala Bandung, Jawa barat. Semenjak itu tak pernah kembali.

Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya nenek buyut saya waktu itu. Sendirian, dengan anak yang masih kecil. Akhirnya nenek buyut saya menghidupi dirinya dan nenek saya yang masih kecil dengan berjualan kue apem dan gorengan. Belum lagi, nenek buyut harus mengurus adik laki2 kecilnya yang matanya tidak bisa melihat karena kecelakaan, juga adik2 yang lain, karena orang tuanya sudah meninggal. Sendirian.

Dan kakek buyut tidak pernah datang, sampai beliau meninggal, dimakamkan di bandung. Kami tak pernah sekalipun menengok makamnya. Sampai suatu saat, ketika nenekku sudah menikah dan punya satu cucu, nenek didatangi wanita dari bandung. Mukanya mirip sekali dengan nenekku. Namanya Agustin. Ya beliau adalah adik nenekku. Adik yang lahir dari ibu yang berbeda. Hanya sekali saja bertemu. Sampai sekarang pun tak pernah bertemu.
Mungkin menyampaikan rasa permintaan maaf dari ibunya, atau penyesalan karena telah merebut suami nenek buyut saya. Entahlah.

Namun yang pasti hingga kini, kami tak pernah mau tahu ttg mereka. Tak pernah mendekati mereka. Bahkan aku tak tahu seperti apa rupa dari nenek Agustin itu. Hanya mndengar dari cerita ayah atau om. Bahkan nenekku pun tak pernah mau bercerita dari mulutnya sendiri.

Aku bisa membayangkan bagaimana sakitnya masa itu. Dan apabila aku dalam posisi seperti nenek buyutku, mungkin aku tak bisa sekuat itu. Bertahan membesarkan anak semata wayangnya, tanpa perlindungan seorang suami. Bahkan suaminya beradu kasih dengan istri barunya. Tanpa ada kata cerai. Tanpa ada kata perpisahan. Ditinggal begitu saja.

Poligami.

Sejak kecil aku membenci poligami.
Poligami mewariskan sebuah trauma bagku, sebuah kebencian yang mendalam, dan sebuah citra buruk bagi laki2. Sampai sekarang, hingga geram dengan laki2 pun pernah. Meski sekarang memang sudah bisa lebih dewasa dalam memandang laki2. Namun bagi poligamu, tetap TIDAK!!!

Ah...lain dari itu, aku berterimakasih terhadap gen dari kakek buyutku. Sudah memberi andil dalam pembentukan wajah dan tubuhku ini. Juga sifat militeris yang mengalir dalam darah keluarga kami.

Previous
Next Post »