Belajar dari Orang Pinggiran

Beberapa hari ini aku seakan ter-flash back apa yang saya alami dan memori2 tentang masa kecilku.
Ada sebuah cerita menarik yang membuatku sempat beberapa kali tertegun dan merenung.

Jantanak.

Kami menyebutnya begitu. Seorang lelaki tua yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah di seberang sungai kecil di desaku.

Rumahnya dia buat sendiri dengan kreatifitasnya menggunakan kardus bekas dan plastik2 bungkus apapun. Sebuah rumah yang sanat sederhana. Kreatifitasnya jelas kurang dipandang pada waktu itu. Meski sesekali dia mengajari anak2 membuat pistol2an dari batang pisang, atau mobil2an dari sandal jepit bekas.

Dia tidak jahat. Dia kerjaannya hanya menyapu jalanan. Menyapu halaman. Dimana saja, untuk mendapatkan sekedar nasi, tempe goreng, syukur2 ada yang memberinya uang.

Aku kurang begitu tahu asalanya, tapi dari logat bicaranya dia berasal dari daerah Banyumas-an. Orang bilang dia berasal dari suatu desa kecil di Kebumen.

Jika lebaran tiba, dia tidak ada di rumah kumuhnya. Orang bialng dia pulang ke Kebumen. Saat2 seperti itu, saya dan teman2 kadang iseng masuk ke rumahnya.

Masih ingat dalam memori saya. Tidak ada yang istimewa disana, hanya rumah petak dengan tempat tidur juga dari kardus bekas, dan beberapa piring  gelas dan sendok yang diletakkan di bawah dekat tempat tidur, dan beberapa tumpukankoran yang tercecer.

Saat itu aku tidak tahu apa2 tentang kehidupan. Yang aku tahu hanya bermain dan mengerjakan PR agar bapakku tidak marah2.

Yang embuat aku merenung saat ini adalah, oh....betapa jantanak itu mulia sekali hidupnya. Dia tidak mau hanya berpangku tangan. Dia menyapu. Paling tidak dia berusaha bekerja semampunya untuk mendapatkan sesuatu.

Dulu, tak pernah sekali terpikirkan mengapa setiap lebaran dia pulang ke asalnya. Oh, mungkin dia ingin juga memberikan sesuatu untuk keluarganya disana. Uang mungkin yang tak seberapa dia kumpulkan dari hasil menyapu itu.

Dulu, tak pernah sekali terpikirkan bagaimana perasaan dia menjalani hidupnya.Kami memandang dia hanya seorang gelandangan yang kerjaannya menyap untuk mendapatkan makan. Bahkan ibuku selalu bilang agar jangan malas, nanti jadi seperti Jantanak.

Tapi sekarang, aku pikir ibu salah. Jantanak itu rajin. Hanya nasibnya saja yang kurang beruntung.
Bagaimana tidak rajin? Sebelum subuh dia sudah menyapu jalanan.

Aku pikir, bagaimana keluarganya disana, seperti apa mereka?

Orang2 seperti itu kadang mempunyai hati yang lapang. Tanpa mengeluh, mereka menjalani hidupnya secara mandiri. Berusaha untuk tidak mengemis belas kasihan orang lain tanpa ada usaha.

Ah...begitu naif saya sekarang. Hidupku seperti ini kadang masih mengeluh seakan tidak pernah cukup.
Saya rasa, saya harus lebih dan lebih bersyukur lagi.

Hari ini aku belajar, untuk selalu berusaha keras. Apapun bisa dilakukan asalkan itu baik.
Tuhan tidak akan pernah membiarkan umatnya yang gigih mati kelaparan.
Previous
Next Post »