Luminous : 1

Entah kenapa mereka terus membuat dinding-dinding yang begitu tebal dan tinggi. Hanya satu tujuan yang aku tahu, untuk memisahkan kita. Namun nyatanya kita selalu punya celah untuk sekedar melihat. Kita selalu berhasil untuk mendakinya, atau memutar jauh untuk sekedar menyapa dan membagi senyum.

Aku selalu merasa nyaman setiap kali berada di tengah keluarganya. Mereka menyambutku dengan hangat, seolah aku sudah lama sekali menjadi bagian dari mereka. Kami bercengkrama dan makan bersama. Dan sesekali kamu memandangku dengan senyummu yang menawan.

Aku tahu hatimu trenyuh melihatku. Aku tahu kamu tak tega terus menerus dengan keadaan seperti ini.
Tapi sekeras apapun usahamu menghancurkan dinding itu, orang-orang itu akan terus menambalnya dengan bahan yang lebih kuat lagi. Dan sampai tanganmu berdarah, kamu hanya terus berusaha menghancurkannya.

Pantai, adalah tempat kesukaan kita. Angin yang membawa kesedihan kita, dan desira ombak yang menenangkan. Kita hanya duduk di antara batu karang. Kusandarkan kepalaku di bahumu. Air mata ini menetes perlahan.

Kau pegang tanganku, dan kau belai rambutku dengan lembut.

"Tak apa, mereka pikir kita akan bisa dipisahkan. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama, maka mengapa kita masih selalu mendapat kesempatan untuk bertemu seperti ini?"

Aku memandangnya, dan dia menatapku dengan kelembutannya.

"Biarkan mereka membangun kokoh dinding itu. Toh hatimu hanyalah aku yang memiliki"

Kemudian kepala kami saling bersandar sebelum akhirnya aku meninggalkan pantai. kembali pulang dan menanti kesempatan berikutnya.


Previous
Next Post »