Syukur Indah di Hari Ini

Siang tadi sepulang kerja, aku bimbang dan galau setengah mati. Bagaimana tidak? Hari ini lagi2 jatuh tempo pembayaran bulanan sewa apartemen. Dan seperti biasanya, dimulai dari bulan januari lalu, saya nunggak 3 bulan. Gara2nya beasiswa sudah tidak di dapat, dengankebutuhan yang sangat besar, uang hasil kerja pun tak bisa mencukupi kebutuhan. Bolak balik, mondar mandir dari kamar tidur ke dapur beberapa kali. Sesekali membuka kulkas untuk mengambil sebutir bakso untuk menenangkan diri. Sesekali kubuka dompetku, hanya ada satu lembar 10.000 an dan 12 lembar 1000 an beserta recehan 10 yen yang berjumlah tidak lebih dari 10.

Bulan lalu, sempat berjanji pada oya san (sebutan untuk pemilik apartemen), untuk membayar lunas pada bulan ini. Namun, apa daya, kealpaan dana membuatku kembali berpikir keras untuk sekedar menyambung hidup sampai bulan depan.  Belum lagi hari jumat ini ada kegiatan yang mengharuskan untuk membawa uang dalam jumlah yang lumayan. Hampir dua jam hati ini tidak tenang rasanya. Akhirnya kuberanikan diri untuk turun ke bawah, ke dalam kantor tepatnya.

Aku mengetuk pintu pelan, dan mengucap salam lirih. Oya san seolah membaca raut wajahku. Dengan senyum dan nada yang terasa bahwa dia juga tidak sampai hati menagih uang sewa dariku, dia menjelaskan perihal tagihan2 yang harus kubayar. Dimulai dari uang sewa bulan maret hingga mei, tagihan gas april-mei, dan listrik maret-mei. Total nya hampir 50.000 yen. Dan dengan amat sangat tidak enak hati, aku bilang bahwa aku hanya sanggup melunasi satu bulan saja.

Oya san menghela nafas, ada tekanan kelegaan dari cara dia bicara. Dan setelah proses transaksi berlangsung, oya san menyemangatiku agar belajar giat dan berjuang jangan menyerah. Mengharukan sekali. Aku pamit dan keluar kantor. Di parkiran sepeda aku membuka dompet, tadi aku tak berani menoleh isi dompetku. Alkhamdulillah masih ada sedikit sisa untuk hari ini belanja makanannya Annabelle dan Angel. Lantas kukayuh cepat2 sepeda kembali ke kampus.

Ah...ya Allah, ya Karim.... betapa inginnya aku pindah apartemen akhir2 ini. Hanya karena kebisingan dan ketidaknyamanan lingkungan. Apartemen ini sudah termasuk murah, meski sempit dan hanya berbataskan triplek. Meski tanpa beranda, yang mengharuskan aku menjemur pakaian di dalam kamar. Dan yang setiap hari berisik karena depan adalah jalan raya. Meski jauh, 15 menit bersepeda dari kampus, yang tiap musim dingin tersiksa karena dinginnya menusuk tulang, dan ketika musim panas terasa seperti membakar kulit.

Sempat aku berkeliling mencari apartemen yang lebih murah. Ya banyak yang lebih murah. Namun tidak ada yang seperti ini. Tidak ada yang bisa menunggak pembayarannya. Tidak ada yang mau meng-cover biaya listrik dan gas. Coba kalau gas nya tidak dicover, pasti aku mandi pakai air dingin terus menggigil kedinginan dan jatuh sakit lagi. Coba listriknya ga dicover, pasti aku udah gelap2an tidur. Secara ga ada lilin yang biasa2 aja disini.

Aku benar2 lalai untuk bersyukur. Yah...setidaknya aku sadar bahwa syukur itu tak selalu ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Syukur itu ikhlas. Ikhlas menerima yang telah kita dapat. Dan memang ini bukan hal yang aku inginkan, tapi hal yang aku butuhkan. Allah memberiku apa yang aku butuhkan. Aku tak butuh apartemen yang terlalu murah atau apartemen yang dekat dengan kampus. Tapi Allah tahu aku butuh apartemen yang pemiliknya baik hati. Karena Allah belum menurunkan rejeki lancar untukku. Aku harus bersabar. Bersabar dengan keadaan. Bersabar dengan ketetapan Allah. Dengan terus memperbaiki diri, membaguskan sikap, dan memperbanyak sedekah. Ah....rasanya aku masih terlalu naif.

Dan baru saja, sms masuk dari bapak (kandung). Bapak bilang sudah kirim uang. Ah ya Allah....memang aku masih anak2. Memang aku masih belum bisa lepas dari orang tua. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, suatu saat nanti aku pasti akan bisa membalasnya. Aku sayang bapak, sayang ibuk, sayang mega, sayang aldine. Alkhamdulillah Allah menjaga mereka.
Previous
Next Post »