Dialog : Orang Baik Untuk Orang yang Baik pula


Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya, Chandra, menemukan sebuah bahasan yang menarik bagi saya untuk diobrolkan. Yaitu tentang sebuah pepatah yang mengatakan bahwa "orang baik untuk orang yang baik pula". Waktu itu, Icang (panggilan dari Chandra) bilang bahwa dalam pengertiannya, tidak sesederhana yang orang pikirkan.

Kebanyakan dari orang menafsirkan, sesuai dengan ayat Al-Qur’an dalam surah An Nur ;26 :


اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Dimana sering orang menafsirkan untuk orang yang baik secara akhlaknya saja, secara harafiah saja. Tadinya, saya juga berpikir demikian. Rupanya, pemikiran saya masih terlalu mentah. "Baik", menurut Icang, itu sangatlah luas pengertiannya. Tidak hanya mengenai akhlak yang baik, namun juga ada banyak hal.

Analoginya adalah begini, ketika seorang wanita berpendidikan tinggi, S3 katakanlah, apakah dia akan begitu saja menerima orang yang berpendidikan hanya tamatan SMA dengan begitu saja? Pasti tidak kan?

Pada dasarnya, jika dilihat dari sudut pandang pendidikan, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka dia akan mencari pasangan yang sejajar dengan dia atau yang tidak jauh dari dia. Ketika ada seorang gadis dengan status ekonomi biasa, pendidikan tidak tinggi, tetapi dia cantik luar biasa ditambah dengan attitude yang cantik pula, maka dia bisa saja mendapatkan laki2 yang berpendidikan tinggi. Pada analogi ini, hal "baik" dari laki2 adalah dari segi ekonominya dan pendidikannya. Sedangkan hal "baik" dari wanitanya adalah cantik dan perilakunya yang bagus. Sedangkan kekurangan di kedua pihak pasti ada. Contohnya misalkan saja laki2nya tidak begitu ganteng, atau bisa jadi duda, atau wanitanya yang janda.

Tapi, sebenarnya, cinta itu ada karena saling menyukai kelebihan dan mengesampingkan kekurangan.

Ketika Icang menanyakanku bagaimana tipe laki2 yang aku harapkan menjadi calon suami, maka aku menjawab bahwa minimal lulus D3, dengan pekerjaan tetap dan kemauan belajar lebih, bertanggungjawab, sayang aku, dan juga menerima aku dengan segala lebih kurang dan masa laluku. Aku memang punya keinginan kalau suamiku nanti bisa meneruskan kuliah ke luar negeri, jadi aku bisa ikut hihihi (living abroad detected).

Icang bilang, aku juga akan mengambil limit dari segi pendidikan, karena secara naluriah aku sudah menempuh pendidikan yang tinggi. Maka bila ada dua laki2 yang sama tapi yang satu lulusan S1 dan yang satu l;ulusan S2, maka pastilah aku akan memenangkan yang S2. Karena, secara naluriah kata Icang, aku akan merasa nyaman jika seorang suami yang akan memberikan pendudukan moral bagi anak2, seenggaknya dia pernah sampai D3. Tapi aku punya pendapat lain. Karena dalam pendapatku, justru seorang wanita lah yang harus berpendidikan tinggi. Karena wanita adalah madrasah atau pendidikan pertama bagi anak2nya. Seharusnya, laki2 tidak perlu malu jika wanitanya mempunyai pendidikan lebih tinggi. Seharusnya malah bangga, karena anak2nya pasti akan dicetak menjadi generasi yang sangat luar biasa.

Kemudian aku ingat percakapanku dengan Yudhi tempo lalu. Ada kenalannya yang menikahkan anak wanitanya dengan seorang laki2 hafidz al Quran. Wanitanya cantik sekali, penurut, laki2nya memang kurang ganteng, tapi dia hafidz. Maka sisi baiknya sudah jelas, cantik + hafidz. Inilah yang mungkin pengertian dari orang baik untuk orang yang baik.

Karena sejatinya kebaikan itu luas. Allah akan membalas sebuah kebaikan, meski hanya sebesar biji zarrah Allah pasti akan membalasnya.


penampakan si Icang



Previous
Next Post »