Renungan Pagi Ini : Rendah Hati dalam Memotivasi

Beberapa hari yang lalu saya terlbat perbincangan yang menarik dengan salah seorang guru dan beberapa teman saya, yaitu mengenai prestasi2 yang telah mereka torehkan. Agaknya saya merasa minder dengan mereka. Saya rasa, saya tak pernah punya prestasi sehebat mereka. Padahal saya pikir usaha saya selama ini juga sudah cukup keras sekali.

Sepulangnya, saya tidak bisa tidur dan pikiran saya jauh menerawang. Saya teringat kata2 salah satu sahabat saya mengenai seseorang yang sangat berprestasi, hingga portofolionya berlembar2 di usia yang masih muda. Namun, sahabat saya bilang, minder rasanya untuk bisa seperti orang itu. Dia tak mungkin bisa menyamai prestasi2 yang orang itu dapatkan. Sahabat saya bilang, banyak yang justru menjadi down dan merasa terintimidasi dengan semua itu.

Pikiran saya kembali ke beberapa tahun yang lalu, saat saya masih menempuh sekolah dasar. Bapak selalu ingin memotivasi kami dengan cerita bapak yang selalu menjadi bintang kelas dan tak pernah membayar uang sekolah karena mendapat beasiswa. Tapi bapak selalu menekankan standar yang tinggi untuk kami, harus ranking satu, harus juara lomba. Juara dua tidak pernah berlaku. Sayangnya, waktu kecil pikiran saya jauh di bawah standar, karena selalu hanya dapat paling bagus itu juara 2, itu pun hanya satu kali waktu kelas 5 caturwulan pertama. Penghargaan2 tak pernah saya dapatkan, karena selalu kalah saingan. Bahkan dari orang tua pun tak pernah terlontar kata pujian, yang ada hanya membandingkan. Kata orang tua, itu adalah bentuk motivasi. Tapi untunglah, sekarang kepada adik laki2ku mereka sudah merubah pola pkir mereka.

Kemudian saya teringat waktu setahun sebelum keberangkatan saya ke Jepang. Di stasiun Tugu, Yogyakarta, kala itu saya pulang dari kantor Oriflame (saat itu saya masih aktif berjualan oriflame). Percakapan singkat seorang ayah dengan anak laki2nya yang masih ada di sekolah menengah pertama. Berlokasi di depot Burger King (atau apa saya lupa namanya, maklum sudah lama tidak ke stasiun Tugu, anggap saja Burger King lah). Ceritanya, si ayah sedang membelikan anaknya Burger King yang diinginkannya. Mereka sepertinya bukan dari daerah situ. Dilihat dari penampilannya mereka sepertinya bukan orang yang terlalu mampu untuk sekedar membeli makanan seperti itu.

Saya yang sedang menunggu kereta prameks tujuan solo, memampirkan diri untuk membeli hamburger kecil dan pepsi sekedar untuk mengisi perut setelah berjalan dari halte bus depan Hotel Orion - kantor Oriflame - stasiun Tugu. Kebetulan saya duduk di belakang mereka. Satu hal yang masih saya ingat dengan jelas, ketika percakapan mereka seperti ini,

Ayah : " ini buat mas yang kemaren sudah capek ikut lomba lari, burgernya dobel, yang ini buat mbak sama ibu dipegang yang bener. "

Anak : "tapi si X (menyebut nama temannya) yang menang pak, aku gak pernah bisa ngalahin dia"

Ayah : " Tapi kemaren bisa lebih cepat dari si Y (menyebut satu temannya lagi) kan? "

Anak : " iya tapi tetap saja kalah dari si X "

Ayah : " ya itu mas sudah hebat wong bisa ngalahin si Y, biasanya mas di belakang si Y kan? Prestasi itu lho mas "

Anak : " ya tapi nggak juara satu "

Ayah : " prestasi itu tidak selalu harus juara satu, mas. Mbak kemaren bisa naik sepeda, itu bagi bapak sudah prestasi. Ibu dapat arisan, itu juga prestasi. Mas berani ikut lomba lari saja sudah jadi prestasi untuk bapak. Kita bisa beli hamburger ini juga prestasi, lha wong tiap hari kita makan tahu tempe to? "

Ah, siapapun mereka, atau mungkin si anak membaca tulisan saya ini, saya pengen sekali berkata, hei nak, kamu punya bapak yang sangat bijaksana. Semoga kamu menjadi orang yang bijaksana juga.

Kemudian, pikiranku tertuju kepada percakapanku dengan seorang teman masa lalu yang sudah lama tidak terhubungkan. Kami terhubung kembali melalui jejaring sosial. Melalui chatting singkat dia mengungkapkan bahwa dia baru tahu saya telah berada di jepang sudah 3 tahun lamanya. Kemudian dia mengungkapkan begitu bangganya melihat saya seperti ini. Satu yang dia bilang saat itu adalah " kamu itu dari dulu selalu berprestasi ". Padahal semenjak sahulu saya tak pernah mendapatkan ranking 3 besar di kelas, apa lagi 3 besar di sekolah. Tak pernah menang lomba, tak pernah juara apapun. Tidak pernah menjabat dalam posisi penting di keorganisasian. Eh pernah dink sekali hehe.

Dan pikiran saya lantas tertuju pada percakapan beberapa hari sebelumnya dengan si mas tentang keinginan saya menorehkan sebuah prestasi, paling tidak satu saja, best presentator atau best poster. Karena teman2 saya selalu mendapatkan seperti itu. Saya merasa sangat minder.

Tapi rupanya, rentetan pemikiran saya ini telah mengubah sedikit pemikiran saya tentang apa itu yang dinamakan prestasi. Bapak itu benar, prestasi tidak harus sebagai juara. Temanku benar, prestasi tidak harus berupa jabatan. Prestasi adalah ketika kamu melampaui apa yang biasanya kamu raih. Itu, yang aku sebut sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah. Karena Allah memberikan kita karunia berupa kemampuan untuk berbuat lebih dari yang biasanya bisa kita lakukan.

Begitu juga dengan memotivasi teman2. Belajar dari pengalaman sahabat saya itu tadi, meskipun saya rasanya belum juga bisa memberi motivasi, namun kita memang harus dituntut untuk rendah hati. Seperti kata om Mario Teguh, bahwa hati yang indah, maka akan banyak orang yang ingin menjadi seperti kita. Jadi, memang kita tidak harus menuliskan banyak sekali apa2 saja yang pernah kita capai. Kecuali untuk memnangkan sebuah perlombaan. Tapi, aku belajar bahwa terkadang kita harus menunjukkan pada teman2 yang lain apa2 saja yang menjadi kekurangan kita.

Seperti saya contohnya, saya bahasa inggris dan jepangnya pas2an, tidak punya uang banyak, IPK yang pas2an. Namun Allah memberikan jalan melalui salah satu dosen kesayangan saya yang akhirnya mengantarkan saya menuju tempat ini. Padahal, masih banyak kandidat lain yang lebih mumpuni, lebih kaya, lebih pintar, lebih segala2nya. Artinya apa? Ni lho, saya yang ecek2 dan rata2 menengah ke bawah saja bisa, apalagi kamu, pasti bisa lebih dari saya.

Selalu, dalam setiap perbincangan dengan adik2, saya selalu sampaikan untuk jangan pernah menjadi seperti saya. Jadilah lebih dari saya dengan caramu sendiri, bukan caraku. Karena rejeki setiap orang itu sudah diatur dalam lauhul mahfudz, kamu akan pergi ke luar negeri beberapa kali, atau hanya sekali, kamu bekerja di alaska atau di paris, itu sudah diatur oleh Allah. Kita adalah berusaha menggapainya dengan cara kita. Inspirasi bisa datang dari siapa saja, tapi tak perlulah menjadi seperti dia, karena jalanmu adalah untukmu, jalannya adalah untuknya.

Percayalah, bahwa setiap orang punya kesempatan. Setiap orang punya prestasi. Hargailah sebuah pencapaian kecil yang sudah kamu dapat. Sekecil apapun itu, itu adalah prestasi dalam hidupmu. Prestasi saya baru2 ini adalah berhasil membeli bantal pikachu. Mahal lho itu kalau beli, untung ada yang second hand jadi murah. Itu prestasi bagi saya, karena selama 3 tahun ini saya hanya mampu membeli 2 buah pikachu, satu boneka, satu gantungan kunci, satu pikachu lagi saya dapat dari teman hehehe.

Big Price for Big Achievement

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Devy Susanty
AUTHOR
August 18, 2014 at 9:01 PM delete

suka dg tulisan ai,, that's right.. prestasi itu bukan hanya juara, bukan hanya ketika menjadi pertama. Pljaran buat orang tua n pendidik

sukses sll ai..

Reply
avatar
Ai Diana
AUTHOR
November 9, 2014 at 2:09 PM delete

eh baru tau devy komen hehehehe muuciiih devyyyy

Reply
avatar