Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli dengan Uang (Katanya)

Banyak orang yang bilang bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Dan orang yang mengatakan bahwa dengan banyak uang maka kita bisa bahagia, adalah orang yang berpikiran sempit. Tapi saya punya pemikiran lain tentang itu. Terlebih lagi, setelah melihat stand up comedy yang dibawakan oleh Yudha Keling di Suci Playground (kemaren nonton di youtube sih sebetulnya, tapi kayaknya admin nya salah upload, jadi di hapus lagi. Seharusnya upload yang ence bagus dkk itu), saya jadi semakin yakin bahwa bukan hanya saya saja yang "berpikiran sempit"

Di video tersebut, Keling mengatakan bahwa yang ngomong "kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang" adalah orang yang berlimpah duit. Dan ya, saya menyetujuinya. Sangat setuju. Saya sebut ini bukan sebuah pemikiran sempit,. tetapi memang adalah sebuah realita. Orang yang hidupnya pas2an tidak akan pernah mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli sebuah kebahagiaan.

Sebagai penegasan, orang kaya, dengan hidup berlimpahan uang, mereka mau ini itu mencukupi segala bentuk kebutuhan sudah tidak perlu mikir keras. Tentu saja, dengan sedikit liburan ke desa, mereka sudah bahagia. Tapi, aslinya tetap saja, mereka tidak perlu merasa khawatir dengan kebutuhan sehari2 mereka, karena memang sudah tercukupi. Sedangkan kami, untuk makan sehari2 saja susah. Benar apa yang dikatakan si Keling, bagaimana bisa berbahagia kalau setiap hari kita harus mikir keras gimana harus kerja ekstra untuk dapatkan uang ekstra untuk membahagiakan keluarga???

Dengan banyak uang, tentu saja kebutuhan mudah terbeli. Dengan mudah terbelinya kebutuhan, kita tentu akan merasa aman dan tidak khawatir. Dan adanya rasa aman dan hilangnya kekhawatiran itulah yang biasa kita rasakan sebagai rasa "bahagia". Kemudian, ada ungkapan "Bahagia itu sederhana", misalkan dengna makan pakai sambel dan lauk ikan lele. Itu karena kita merasa senang memakannya. Dan itu karena kita punya sesuatu yang membuat kita nyaman, dan tidak merasa khawatir. Sehingga emosi kita akan menjadi sangat kuat dan itulah kata bahagia.

Tapi, misalkan untuk kita nih, kayak saya, yang mungkin sehari2nya makan cuma pakai nasi ditabur garam atau kecap dengan kerupuk. Sehari2 makan itu, tentu aja gak bisa disebut bahagia, yang ada juga bosan. Kita juga ingin makan ayam goreng. Dan ketika kita makan ayam goreng, itulah kebahagiaan kita. Jadi beda kondisi keuangan, maka level kebahagiaan kita juga akan berbeda.

Jadi, menurut saya, yang jadi permasalahan bukanlah uang bisa membeli kebahagiaan atau tidak. Bagi orang kaya, iya benar bahwa uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, Tapi, bagi orang yang pas2an, tentu saja uang akan mampu membeli kebahagiaan yang kami inginkan. Seperti quote andalannya mbah Wibowo Jo, "Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang".

Yang penting adalah kita selalu bersyukur dengan apapun yang kita miliki. Mbak Yo pernah memberi nasehat pada saya dan saya aminkan. Bahwa seberapapun banyaknya uang pasti akan habis juga. Yang penting adalah kita selalu bersyukur atas apa yang kita dapat. Uang yang banyak, jika kita tidak bersyukur, maka akan selalu kurang. Sedangkan uang yang sedikit, jika kita selalu mensyukurinya, maka pastilah kita akan merasa terus berkecukupan. Bahagia, ya bahagia itu ada karena kita bersyukur. Rasa syukur akan membawa kita pada rasa aman, nyaman dan akhirnya kita merasa senang, dan itu lah cikal kebahagian.

Jadi, bahagia itu tidak sederhana kawan. Karena kita harus menumbuhkan rasa syukur dalam diri kita. Dan itu tidak semudah ketika kita bicara. Lihatlah dalam diri kalian, bisakah bersyukur tanpa rasa iri?? Ada atau tidak ada uang, itu bukan lah menjadi tolak ukur kebahagiaan, Tapi, syukur, itulah yang membedakan.

Yuk mari kita lebih bersyukur lagi, Untuk teman2 yang Moslem, bisa kita tingkatkan wujud syukur kita dengan rutin melakukan shalat sunnah rawatib 2 rakaat sebelum subuh, pahalanya insyaa Allah setara dengan dunia dan seisinya.

Bahagia bagi saya, salah satunya adalah memakan sushi unagi ini. Harganya 480 satu pak, tapi, saya jarang memebelinya karena uang saya tidak banyak saat ini. Mungkin suatu saat jika saya kaya, saya ingin punya peternakan unagi jadi saya bisa makan unagi setiap saat dan membagikannya pada keluarga dan orang2 disekitar saya dengan gratis agar mereka juga bisa merasakan lezatnya unagi ini.
Bahagia bagi saya, salah satunya juga ketika berbicara denganmu, memberimu semangat, dan bercanda tawa seperti saat sebelum kamu ternggelam dalam seluruh kesibukanmu

Previous
Next Post »