I Fall in the Autumn (2)

Cinta datang bukan dengan tiba2. Cinta ada karena terbiasa. Jika kamu mengatakan bahwa kamu jatuh cinta pada pandangan pertama, maka itu hanyalah rayuan belaka. Ketertarikan. Itulah yang terjadi pada pandangan pertama. Tak jarang, rasa itu memudar seiring dengan berjalannya waktu. Tak sedikit pula yang bertambah kuat dan berakhir di pelaminan. Tapi, cinta tak bisa di paksa. Tidak seperti engkau memaksakan dirimu untuk terus mencintai dia yang tak kunjung membalas.

Seperti sore ini, aku mengemasi barang dari ruang laboratorium biologi. Pengamatan untuk praktikum kelas biologi sudah selesai sejam yang lalu, namun aku selalu senang berada di dalam rumah kaca bersama puluhan bunga mawar ini. Jarum jam di jam tangan usangku telah menunjukkan pukul setengah lima. Aku bergegas untuk segera pulang, guna menjemput ibuku di sawah dan membawakan beberapa peralatan sawah seperti biasanya. Jam segini, sudah tidak banyak guru yang berada di sekolah. Hanya terlihat anak2 klub sepak bola dan beberapa anak kelas tiga di tepi lapangan.

aku bergerak lurus ke arah depan UKS, tempat dimana aku parkir sepedaku. Dari kejauhan aku melihat Satria keluar dari ruang UKS dan segera melarikan motor nya pulang. Sesampainya aku di dekat sepedaku, aku mendengar isak tangis seorang wanita dari dalam UKS. Naluriku bergerak untuk membuka pintu perlahan. Aku melihat Rena sedang menangis. Di tangannya tergenggam amplop surat berwarna merah muda tertulis " Untuk Satria ", sedangkan lembaran suratnya jatuh dengan keadaan yang kucel.

Rena menyadari kehadiranku, kemudian dia membentakku dengan marahnya.

" Ngapain lo disini? Sana pergi!! "

" Maaf ren..aku ga sengaja.. "

aku berbalik pergi dan ketika akan aku tutup pintu UKS, Rena kembali mengancamku,

" awas ya kalau sampai lo nyebarin ini ke sekolah, gue bikin mampus lu "

aku hanya diam dan menutup pintu. Segera aku larikan sepedaku dan bergegas ke sawah.

Rena, dia gadis yang sangat cantik. Putri seorang dokter ternama di kota ini. Dia tinggi, mungkin sekitar 167 cm, kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan. Dia terkenal dengan geng-nya bersama beberapa gadis cantik lainnya, termasuk Kyla. Mereka berdua sudah terkenal saingan secara diam2 dalam merebut hati Satria. Tapi Satria...hatinya selalu tertambat pada Annabelle.

Annabelle adalah teman mainku sejak kecil. Satria juga. Kami bertemu secara tidak disengaja. Satria kecil dan teman2nya selalu mencoba untuk menjaring ikan mujair yang bapak sebar di sawah. Dan aku selalu berlari mengejar satria demi melindungi sawahku. Tapi terkadang kami sering bersekutu mencari jambu monyet kemudian membakar metenya di tepi empang milik Haji Dargo di dekat sawah bapak. Terkadang kami mencabut ketela dan umbi garut untuk kemudian dibakar dan dimakan bersama2.

Kemudian kami bertemu Annabelle saat kami hendak berusaha mengambil semangka. Annabelle adalah anak dari pemilik kebun semangka itu. Kemudian dia mengijinkan kami mengambil semangka, dengan syarat yang jelek saja. Kami senang sekali. Sejak itu, kami selalu mengajak Annabelle bermain di sawah. Namun mamanya selalu marah kepada kami.

Ketika beranjak besar, Annabelle satu sekolah dengan Satria, dan aku sering melihat mereka berjalan bersama. Kadang Satria nongkrong di barak kecil yang terletak di tepi sawah bapak, menunggu aku datang ke sawah untuk sekedar bercanda dan mengejekku yang hitam legam. tapi aku tak pernah marah, aku balas ejekannya dengan mengatakan dia tangga berjalan karena dia semakin tumbuh tinggi dan kurus waktu itu. kemudian aku mendengar bahwa Satria dan Annabelle berpacaran. aku senang sekali. Kami bertiga bersama 3 orang teman masa kecil kami yg lain, Deni, Lian dan Edo mengadakan pesta kecil di barak. Kami membakar ikan, mete dan ketela sambil mengenang masa kecil kami yang urakan.

Tapi setahun kemudian, tepat ketika kami beranjak di pertengahan kelas 2, Annabelle masuk rumah sakit. Dan kami baru sadar bahwa selama ini Annabelle menderita leukimia sejak kecil. Tiga minggu kemudian, Annabelle meninggalkan semua yang mencintainya untuk kembali pulang ke rumah masa depannya. Kami sangat terpukul. Annabelle begitu ceria, begitu manis, dan baik hati. Rambut keritingnya yang selalu dikuncir dua seperti sosok Candy dalam serial komik Candy-Candy. Kami tak pernah mengetahui bahwa Annabelle sakit. Dia memang tampak lebih dewasa dari kami. Dan satria, semenjak saat itu hingga sekarang kami hampir menuju ke kelas 2 SMA, tak pernah lagi berpacaran dengan gadis manapun. Kadang aku melihat dia pergi kemakan Annabelle sekedar menaruh bunga diatasnya dan berhenti beberapa saat disana sebelum beranjak dari pemakaman.

Tanpa terasa aku sudah sampai di sawah. ibu menegurku karena telah menunggu lama. aku katakan alasanku dan kami pulang menuntun sepeda. Sore ini begitu suram. Matahari menguning melewati atas gunung. Aku dan ibu melewati makam. Aku meminta ijin untuk masuk ke makam sebentar, menyapa Annabelle sebentar lalu kembali pulang sebelum maghrib.

Salah satu spot favoritku ketika autumn adalah di taman Malera mall. meski jauh, tapi aku sering kesana terutama di autumn malam. Suasananya seperti ini. Aku relakan dingin2 dan berkostum dalam balutan baju hangat lengkap dengan sepatu dan syal juga sarung tangan tebal. Tapi aku suka suasananya. Dengan cahaya lampu remang2 begini. Hmm...akan lebih cantik lagi kalau ada vidi aldiano di sebelahku... (ngimpi)

Previous
Next Post »