I Fall in the Autumn 3

Subuh yang dingin, disambut dengan kokok ayam jantan dari kandang di belakang dapur rumahku. Bapak sudah sejak jam 3 pagi bangun untuk menyiapkan bibit padi yang sudah disemai sejak dua minggu yang lalu. Ibu pun begitu berkutat di dapur memasak untuk kami. Aku bergegas ke kamar mandi setelah shalat subuh. Pekerjaanku adalah mencuci baju setiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Jam 6 pagi, aku selalu siap mengayuh sepedaku dari rumah. Jarak rumah ke sekolah adalah 45 menit dengan sepeda. Aku selalu menikmati suasana pagi seperti ini. Rasanya begitu sejuk dan semangat.

"Ah...bapaaaaaaak. Sepedaku bocor" teriakku setelah mendapati ban sepeda depanku ternyata mengempes dan tidak bisa dipompa. Aku mulai panik, jam dinding sudah menunjukkan pukul 5.45. 

" nanti bapak bawa ke reparasi, kamu naik angkot aja. Bu...ada uang lebih tidak? "

Ibu memberikanku tiga lembar seribuan sambil berkata dengan wajah merasa bersalah, " adanya segini, nanti kamu pulangnya jalan kaki gapapa ya, ga usah ke sawah, langsung pulang aja"

"iya bu, gapapa. Emi berangkat dulu ya pak, bu. Assalamualaikum"

"waalaikum salam. Ati2 nak"

Aku berlari kecil di jalan sempit menuju ke arah pangkalan angkot. Sejujurnya ini pertama kalinya aku pergi ke sekolah naik angkot. Bagiku, naik angkot ke sekolah adalah hal yang mahal. Ongkos untuk anak sekolahan saja sudah 2000. Sisanya uang saku untuk aku belikan nasi bungkus di kantin. Aku jarag membeli jajanan lain. Nasi bungkus 1000 rupiah sudah cukup untuk mengisi perutku di saat istirahat makan siang. Orang tuaku memang bukan orang yang kaya, tapi cukup untuk menghidupi kami sehari2 meski harus mengirit. 

Aku punya kakak perempuan dan satu adik laki2. Kakakku sangat cantik, berbeda denganku. Kami terpaut 10 tahun. Sedangkan adik laki2ku hanya terpaut 2 tahun. Lepas SMA kakak pergi ke Jakarta untuk bekerja. Disana dia mengambil kuliah D3 dengan biaya sendiri. Kakak sangat tekun dan rajin. Kami sering dikirim uang, bahkan kakak tak segan memesankan bahan bangunan untuk memperbaiki kamar mandi dan dapur di rumah. Hingga suatu ketika, putra dari direktur perusahaan tempat kakak bekerja tertarik. Kemudian mereka menikah. Kami sangat bangga dengan kakak. Tapi, mungkin pihak besan merasa malu dengan keadaan keluarga kami yang pas2an. Entah kenapa, kakak sampai sekarang tidak pernah menghubungi keluarga. Terakhir di surat kakak yang ditulis berlembar2 dengan bekas linangan air mata, menyebutkan bahwa kakak meminta maaf yang sebesar2nya karena tidak bisa berbuat banyak. Ya, kakak masuk ke dalam lingkungan keluarga elit, sehingga segala sesuatunya kakak harus mengikuti suaminya. Jangankan pulang saat lebaran, mengirim uang atau barang, surat saja kami sudah tidak mengharapkannya. Bapak sangat marah, ibu menangis setiap malam. Terlebih, ketika adikku kecelakaan sampai akhirnya meninggal, kakak tidak juga kunjung pulang. Menanyakan kabar pun tidak. Bapak dan ibu seperti orang patah hati. Waktu berlalu, kami sudah mulai bisa melupakan kakak. Tinggal aku dirumah. Tidak ada lagi anak bapak yang lain. Tapi aku tau, bapak dan ibu masih menanti kakak pulang. Foto kami bertiga terpajang di dinding bambu ruang tamu kami.

Aku selalu berkata pada diriku sendiri untuk bisa membanggakan bapak dan ibu. Aku mungkin tidak secantik kakak, juga tidak sepintar adikku yang dulu selalu juara kelas. Tapi paling tidak, sekarang, hanya aku yang mereka punya. Aku harus lebih berusaha lagi untuk membuat mereka tersenyum bangga.

"SMA 2...SMA 2...."

Suara sopir angkot membuyarkan lamunanku. Bergegas aku turun dari angkot dan membayar. Kulihat tugu jam di dekat gerbang masih menunjukkan pukul 6.15. Cepatnya naik angot itu. Aku tak pernah datang sepagi ini. Rupanya hanya ada pak satpam yang sedang bersiap2 di dalam pos jaga dan anak2 kelas 3 yang setiap pagi ada pengayaan pukul 6.30. 

Aku berjalan menuju ke kelasku. Seperti biasa melewati gedung olah raga dan lapangan basket. Matahari pagi masih malu2 untuk menyapa. Aku mendengar hentakan bola basket. Sepagi ini siapa yang sudah bermain? Setelah melewati gedung olah raga, aku baru bisa melihat di lapangan basket. Rupanya Adrian. Peraih nilai ujian tertinggi di kota ini saat SMP, dia merupakan penerus dari salah satu perusahaan properti besar di jakarta. Dia satu SMP denganku. Dia bisa masuk ke SMA 3 yang berisi anak2 pintar, atau SMA 1 yang kebanyakan orang2 elit. Atau ke jakarta tinggal dengan orang tuanya dan bersekolah di sekolah internasional. Karena dia menguasai 3 bahasa asing. Tapi, dia memilih untuk tinggal dengan neneknya dan bersekolah di SMA nomor tiga di kota ini. 

Memang sih dia merupakan salah satu tim basket inti. Tapi kan ga sepagi ini juga berlatihnya.

Ah, aku baru ingat, bulan depan ada ujian kenaikan kelas. Setelah itu ada festival. Ah.....iya, biasanya selalu mengadakan perlombaan dan pertandingan basket juga sepak bola yang mengundang peserta dari sma lain. Aha...taun lalu aku dengar tim inti sekolah kami kalah dengan tim inti SMA 1. Hal itu menjadi bahan ejekan anak2 SMA 1 kepada SMA kami. Sering aku menemui kakak2 kelas yang saling mengejek di pengkolan pasar dengan anak2 SMA 1. Hahaha.....demi sekolah ini rupanya dia berlatih keras. Aku dengar dari percakapan beberapa kakak kelas di kantin, Adrian digadang menjadi salah satu kandidat calon Ketua OSIS tahun depan. 

Adrian itu cool sekali. Seperti tokoh2 kartun jepang di komik2. Jarang bicara dengan orang kalau tidak perlu. Cewek2 selalu berebut mencari perhatiannya, tapi tanggapannya selalu dingin. Berbeda dengan Satria yang ramah. Hmm...mungkin karena itulah Satria lebih bayak digilai perempuan. Sejak smp, dia selalu menjadi pusat perhatian orang2. Prestasinya yang luar biasa dalam berbagai kejuaraan olimpiade pun ditelurkannya. Membanggakan sekali. Aku pernah sekali satu kelas dengannya ketika kelas 2 SMP, tapi aku tak pernah berbicara dengannya. Seperti, beda level.

Aku melewati tribun penonton di pinggir lapangan. Entah kenapa design sekolah ini menempatkan kelas 1 di dalam sebuah lorong dan harus melewati lapangan basket. Aku sering mengutuk pembuat design sekolahku ini. Menyusahkan sekali. Padahal kalau dipikir2, enak juga bisa ngeceng anak2 basket yang terkenal keren2. Ah...tapi aku bukan tipe pengeceng seperti itu. Hehe, aku cukup sadar diri.

Sesampainya di kelas, aku jadi bingung sendiri. Waktu masih menunjukkan pukul 6.25 dan aku bingung harus ngapain. PR sudah ku kerjakan semua. Ulangan terakhir sebelum ujian kenaikan kelas juga sudah ku pelajari. Akhirnya ku putuskan untuk duduk saja di dalam kelas. Aku melihat Adrian yang sedang berlatih keras mendribel dan menembakkan bola. Kuamati tekniknya lama sekali. Aku terbiasa mengamati satria bermain basket sejak kecil. Tapi aku tak pernah pandai memainkannya, hanya bisa. Kuperhatikan tekniknya agak berbeda dengan Satria. Tapi aku tak tau banyak. Hanya perasaanku saja. 

Anak2 mulai berdatangan. Beberapa cowok bergabung dengan adrian di lapangan basket. Adrian memilih untuk istirahat dan berjalan menuju ke pinggir lapangan. Pandagannya tertuju ke arahku, yang mana kelasku mempunyai jendela yang terbuka sangat lebar. Aku sadar pandangannya aneh terhadapku, cepat2 aku buang muka. Jujur, aku takut jika berhadapan tatapan Adrian yang menakutkan. Gosip yang kudengar, katanya Adrian sering menghardik cewek2 yang tidak selevel dengannya. 

Aku melihat Satria membawa bungkusan plastik. Hihi, tumben dia bawa yang begituan ke sekolah. Rupanya dia melihatku, dan berteriak, "Hei Emi, sini" sambil mengangkat bungkusan itu.

"Hah???" kataku sambil beranjak dari meja dan berjalan ke lapangan pinggir lapangan basket yang jaraknya hanya 7 meter-an dari depan kelasku. 

"Tadi pagi ketemu ibu di pengkolan lagi nunggu angkot. Mau kasih bekal katanya. Aku bilang biar aku aja yg kasih, ibu pulang aja gitu"

"Apa ni?"

"Kayaknya bekal makan siang, ga tau. Bukalah. Bannya bocor kata Ibu?"

"he-eh" kataku singkat sambil mengangguk dan membuka kotak bekal yang sebenarnya milik adikku waktu kecil dulu. Kulihat isinya nasi goreng dengan irisan telur dadar dan potongan timun. Aku tersenyum dan menutupnya.

"Haaa....nasi goreng....aku mau lah bawa bekal juga besok" kata satria mengintip bekalku.

"Berani gitu? Diejek nanti lho..." canda ku, "Makasih ya Satria". Satria hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda oke.

Aku lantas keluar dari lapangan basket. Melewati Adrian yang tiba2 menoleh ke arahku dengan tatapannya yang dingin seperti biasa. Aku sadar tentang kejadian tadi. Aku lantas mendekap bekalku dan menganggukkan kepala sebagai tanda maaf. Aku tak berani mengangkat muka dan berjalan keluar dari pintu kecil pembatas lapangan dan jalan. Tak sengaja aku menabrak seseorang. Naoki. Mukaku langsung panas seketika. Dia tampak begitu ganteng dimataku hari ini.

" Ma-maaf...." kataku sambil langsung jalan ke kelas.

Tak terdengar kata apapun dari Naoki. Aku masuk ke kelas, dan mengintip melalui pinggir jendela. Aku melihat dia menyemangati teman2nya.  Ah...melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat hatiku merasa senang. Tanpa sadar, aku telah memperhatikannya hingga bel berbunyi.

Momiji pertama saya di bulan November 2011 di Hyakunen Koen (100 years Park). Entah setan apa yang merasuki saya sehingga saya betah memakai baju lengan pendek di musim gugur saat itu. Kalau sekarang sih........yada!!! Gak sudi... Dinginnyaaaa minta ampun

Previous
Next Post »