I Fall in The Autumn (4)

"teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet"

Bel tanda pulang sekolah berbunyi panjang. Ulangan bahasa inggris hari ini bisa kukerjakan dengan lancar. Cepat2 aku masukkan semua peralatan tulis menulis ke dalam tasku. Sejenak melihat tasku yang aku jahit sendiri dari bekas kain perca milik ibu. Rupanya sudah harus ganti tas lagi, sudah mulai usang dan sedikit bolong di pinggir. Baiklah, pikirku, pulang sekolah nanti akan menjahit.

"Emi"

Seseorang memanggilku. Aku menengok ke arah suaranya. Rupanya Nia dan dua gengnya, Syara dan Indah.

"Ya?" jawabku singkat

"Piket hari ini kamu yang kerjain ya. Hari ini aku ada kencan, udah dijemput pacarku di depan. Ya" rayunya

"Loh, kan bisa mundur bentar kan, piket sebentar aja"

" Aduh, Emi, kamu gak pernah punya pacar sih jadi ga ngerti ginian" timpal Indah sengit

"Tapi kan, kalo tau jadwal piket hari ini, kencannya bisa besok kan, toh besok jumat pulang cepat" jawabku ga mau kalah

"Udah udah, Emi, pokoknya hari ini aku mau kencan. Kamu kerjain piketnya. Oke! Yuk cabut" kata Nia dengan seenaknya dan pergi

"Ha???" aku cua melongo dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Samar kudengar percakapan mereka di sela tawa mengejek.

"Emi bodoh sekali"

"Cewek kayak gitu gak mungkin juga dapat pacar. Muka jelek item kucel lagi berani2nya mau nglawan"

"Hahahahahaha"

Aku cuma menghela nafas panjang. Ah nasib. Ya sudahlah. Paling tidak masih ada 2 cowok yang piket. Aku bergegas megambil sapu di pojokan. Kulihat Arya melenggang pergi. Loh, bukannya dia piket juga hari ini?

"Arya, hari ini piket kan?" teriakku

" Sibuk. Kamu aja" jawabnya seenaknya dan langsung pergi

Aku menghela nafas sembari membenarkan letak kacamataku. Aku melirik Burham yang juga kedapatan tugas piket.

"Mau pergi juga ham?"

"Nggak lah. Mau ambil air buat ngepel" jawabnya singkat.

Burham itu mungkin aku versi cowok. Dia sering dijadikan obyek bully anak2 cowok. Tapi dia santai saja. Seperti mengalir saja hidupnya. Kacamatanya tebal sekali. Minus 5 katanya. Padahal dia pelajaran juga biasa2 saja, bahkan cenderung tidak pintar dalam pelajaran. Cuma dalam pelajaran agama nilai2nya selalu nyaris 10. Kudengar dia tinggal di pesantren. Mungkin dia besok bakal jadi ulama besar.

Burham kembali dari kamar mandi dengan seember air.

"Makasih ham" kataku. Dan kami mulai membersihkan kelas.

"Ham, aku mau tanya. Kamu itu, kenapa selalu santai aja dibully??"

Burham berhenti sejenak dari memeras kain pel, dan menatapku sejenak sebelum dia kembali menatap kain pel dan memerasnya lagi.

" Aku suka melihat temen2 ketawa senang. "

"He???" aku tak mengerti dengan jawabannya.

" Iya, kamu tau kan, mukaku jelek, aku ga pinter, pendek juga. Aku sebenernya pengen gaul juga, tapi ga bisa. Aku kurang bisa ngomong dengan mereka. Jangankan ngobrol, menyapa aja mereka jarang. Jadi aku biarkan saja mereka seperti itu, asalkan tidak keterlaluan. Aku menikmatinya. Aku senang dengan suara tawa mereka. Terlihat bahagia kan? Walaupun begitu, aku udah seneng bisa mengenal mereka"

"Ham, kita nasibnya sama ya haha. Tapi, kamu bijak banget"

"Bijak sama bodoh itu beda tipis, Em haha"

"omonganmu sumpah ya kayak orang tua" kami tertawa bersama.

"Em, kalo aku liat2 kamu tu sebenernya cantik lho."

"Hesh, ga usah ngrayu" kataku salah tingkah. Jelas saja, selama ini tak pernah ada yang mengatakan aku cantik selain keluargaku dan Annabelle.

"Serius. Tapi masih cantikan Kyla sih... Oh..kyla...." katanya

"he???" aku terkejut, "Masak......kamu suka Kyla???"

Burham cuma melirikku kemudian tersenyum. Dan semakin senyum2. Aku merinding dibuatnya. Tapi geli juga. Ga nyangka model pesantrenan kayak dia bisa juga suka sama cewek, hihi.

Kami menyelesaikan tugas piket hari ini dengan banyak sekali mengobrol. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4.30. Aku bergegas pulang karena harus jalan kaki.

Dijalan, aku tak bisa melupakan kejadian tadi pagi. Entah kenapa terus terbayang Naoki. Ah, seandainya dia pulang dan melihatku jalan seperti ini, terus dia meminggirkan motornya, kemudian membunyikan klakson. Menawariku pulang bareng....aaaaaahhhhhhh. Mukaku jadi merah, malu sendiri membayangkannya.

"Tin tin"

Eh....suara klakson....jangan2...Naoki...waaaaaaa. Tiba2 jantungku berdebar. Kuberanikan untuk menengok ke belakang.

" Yo Emi, ayo naik, sepeda bocor kan, ga bawa duit lebih pasti"

Antara senang dan kecewa melihat ternyata yang di belakang itu ternyata Satria.

" Heh, wajahmu sinis gitu kenapa he??? Ada pangeran berkuda besi menjemputmu gini lho harusnya senang"

" Pangeran berkuda besi katamu?? -_- "

" Hahahahhaha aku tau!! Pasti mengharapkan pangeran yang lain ya?? Pangeran Naoki dari jepang hahahhaha"

" jahat kamu ah " kataku sambil naik ke jok belakang

Sore itu, Satria mengantarku sampai ke depan rumah. Aku mengucapkan banyak terima kasih.

"Besok kalo sepedanaya kenapa2, dateng aja ke rumah."

"Iyaaa.....mas pangeran berkuda besi"

Satria kemudian pulang setelah ngacak2 rambutku, kebiasaan dia dari kecil.

Aku membuka pintu rumah. Rasanya bapak ibu masih di sawah. Aku masuk ke kamar dan membuka laciku. Aku mengambil sebuah benada yang selama ini aku simpan. Dua buah tensoplas bergambar beruang lucu, satu sudah bekas terpakai, satu lagi masih terbungkus rapi. Sudah lama sekali. Benda inilah, yang membuatku menyukai Naoki.




Salah satu kegilaanku adalah berpose ra umum seperti ini. (Autumn pertama, 2011)

Previous
Next Post »