If You Were in My Shoes (I)

Rencana Tuhan adalah untuk semua manusia, bukan hanya untuk orang dari sekelompok agama saja. Saya berani mengatakan itu karena beberapa kali terjadi dalam hidup saya. Baru2 ini saya merasa sedikit guilty pada keluhan saya beberapa waktu yang lalu terkait beasiswa rekomendasi yang besar yang diberikan pada rekan saya. Tetapi saya mencoba ikhlas untuk menerimanya. Namun tetap saja setiap bulan ada waktu untuk sedikit iri dengan dia. Namun, tentu saja hal itu tidak membuat saya membenci dia, saya suka dengan dia karena dia orangnya lucu dan menyenangkan meski terkendala bahasa dalam berkomunikasi (Saya utarakan ini karena pasti "mereka" akan selalu menjadikan sesuatu hal pada saya sebagai alasan untuk menyerang saya lagi).

Semalam, saya dan sahabat2 saya satu laboratorium pergi untuk minum. Mereka minum beer dan semacamnya, saya cukup jus jeruk. Saya suka pergi minum dengan mereka, karena menyenangkan sekali ketika berbicara, dan juga sangat menyenangkan melihat tingkah mereka kalau sedang mabok haha. Yah meskipun ujung2nya saya pasti harus mengawal pulang salah satu dari mereka yang paling mabok untuk selamat sampai ke rumahnya, tapi tak apa, menyenangkan sekali.

Semalam, rekan saya itu terlihat senang sekali. Dia banyak mengambil foto kami, tertawa bersama kami, menciumi kai satu per satu. Terlihat sekali bahwa dia sangat menyayangi kami. Dia adalah rekan kami dengan umur paling tua. Kami mengganggap dia adalah kakak. Kemudian tentu saja dia adalah orang yang terlihat paling mabuk, jadi saya harus memastikan bahwa dia selamat sampai ke rumah, apalagi karena kami pergi menggunakan sepeda dan saya adalah satu2 nya orang yang tidak mabok.

Sepanjang perjalanan, dia mengutarakan banyak hal. Dia mengyatakan bahwa sangat sedih sekali harus berpisah dengan kami. Dia sudah sangat bahagia ada diantara kami, ada diantara adik2 yang sangat menyenangkan bagi dia. Dan banyak sekali hal yang tak bisa aku utarakan satu per satu di tulisan ini. Hal itu membuatku sedikit merasa bersalah atas pikiran2 kecilku. Dan berkata pada diriku sendiri "If I were in your shoes...".

Ya, Tuhan selalu punya rencana yang yang tak dimengerti oleh kita manusia. Betapa Tuhan telah menyiapkan sedemikian rupa skenario indah.

Baiklah, aku beberkan sedikit.

Dia, mendapat beasiswa yang besar setiap bulannya. Kemudian dalam 2 bulan pertama, dia masih aktif bekerja di laboratorium bersama saya. Kemudian setelah itu dia seakan sering menghilang, ternyata dia melakukan kerja sambilan. Kami sempat bertanya, "bukankah si bapak sudah ngasih beasiswa banyak?? kenapa masih baito?" bahkan si teman cina sempat berseloroh "seperti orang cina saja". Namun, malam itu aku mengerti rencana Tuhan.

Ayahnya sakit keras.

Dia adalah anak tertua di keluarganya dan masih punya beberapa adik. Sebelum kemari, dia adalah salah satu staff di Kementrian Ekonomi di negaranya. Dia mengorbankan jabatan dan gaji yang tinggi untuk bersekolah disini. Dan kemudian dia harus pulang untuk mengurus keluarganya. Tentu saja, uang yang dia kumpulkan dari hasil kerja sambilan, dia kirimkan ke negaranya untuk pengobatan ayahnya. Dan selama ini kami tidak pernah tahu tentang itu.

Ya Allah, Tuhan....rencanaMu itu sungguh tertata rapi sekali. Tuhan memberikan dia beasiswa besar dan waktu banyak untuk bekerja sambilan, karena Tuhan ingin dia membantu keluarganya. Tuhan tidak memberiku kesempatan itu, karena rencana Tuhan tidak seperti itu kepadaku. Rencana Tuhan lain untukku. Mungkin aku sedang ditempa keras disini, mungkin pula karena aku yang terlihat sehat dan kuat ini masih bisa berjuang dengan jalan yang lain.

Dan aku merasa sangat bersalah dengan keluhan2ku selama ini. Ah Tuhan, andai saja aku tahu, tapi aku begitu bodoh untuk mengetahui hati orang lain, apalagi mengetahui rencanaMu.

Tapi, aku belajar sesuatu. Bahwa pasti ada sebab dibalik sebuah tindakan seseorang. Dibalik sebuah keberuntungan seseorang, bahkan pula dibalik sebuah musibah seseorang. Aku belajar untuk memandang sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Mengapa, ada apa, untuk apa, adalah hal2 yang harus aku cermati dalam memandang sebuah kasus.

Seperti yang aku bilang, If you were in my shoes, andai saja kamu ada di posisiku.

Saat ini, aku hanya bisa mendoakan agar dia dilancarkan rejekinya, disembuhkan sakit ayahnya, dan diberikan jalan yang indah.

Terima kasih Tuhan atas pelajaran yang Kau berikan malam ini.

Aku tidur dengan perasaan yang sangat lega....


Previous
Next Post »