If You Were in My Shoes II

Beberapa hari yang lalu, dua orang teman saya membuat pengakuan yang mengejutkan. Lebih tepatnya confessiaon. Saya kurang tahu apa istilah yang tepat dalam bahasa indonesia. Mungkin seperti, mengakui kesalahan, mmm..aku rasa kurang tepat.

Intinya, mereka berdua, secara terpisah mengatakan sangat menyesal atas apa yang mereka lakukan padaku tahun lalu yang membuat orang2 itu lantas lantas kemudian menghakimiku di facebook, di media manapun, hingga saat ini orang2 itu menjadi senang sekali menyerangku. Seperti itu yang mereka katakan.

Well, sejujurnya saya terkejut dengan pengakuan mereka. Karena saya sudah melupakan kejadian itu, dan saya sudah memaafkan mereka dan tidak pernah lagi mengungkitnya.

Cerita berawal dari ketika saya master semester terakhir, saya memang menjadi sangat sensitif. Penelitian saya yang mengharuskan setiap hari di lab bahkan sabtu dan minggu, belum tentang data yang terasa tidak pernah cukup. Saya memang stress, enelitian saya menyita banyak waktu. Sehingga saya menjadi sangat sensitif dan gampang marah. Penelitian saya memang mengharuskan saya untuk terus bergerak dan menganalisis, bukan hanya sekedar di dalam ruangan saja. Kadang harus pergi ke gunung untuk mengambil sampel dalam cuaca yang dingin dan bersalju. Hal itu membuat saya capek badan dan pikiran. Ditambah lagi, banyak sekali kejadian yang membuat saya stres dan down.

Kemudian, mereka berdua merasa saya begitu sensitif ini, dan merasa tidak menyukai saya. Seingga mereka melapor pada orang2 itu dan kemudian orang2 itu bak hero mulai menyerang saya secara intensif. Bahkan sampai menjelang presentasi akhir tesis pun orang2 itu tak pernah absen mengganggu pikiran saya.

Tapi, setelah wisuda, pikiran saya sudah mulai membaik dan tenang. Saya memang orangnya gampang sekali memaafkan orang dan gampang melupakan hal buruk. Bukannya narsis sih ya, tapi sifat saya ini dimengerti betul oleh orang2 itu jadi saya tampak begitu gampang untuk kemudian dibodohi kembali berkali2.

Tapi ya sudahlah. Bukan itu intinya.

Jadi singkat cerita mereka bercerita panjang lebar denga tema yang sama. mereka meminta maaf karena saat itu mereka tidak tahu seperti apa kondisiku. Dan tahun ini, mereka menjadi mengerti kenapa aku begitu sensitif dan kemudian setelah lulus aku menjadi berubah. Satu diantara mereka berfikir, karena saya sudha kehilangan teman dekat dan tidak ada teman lagi, lantas dengan terpaksa saya harus berteman dg yang lainnya (saya mengatakan " non sense" dan disambut dengan tawa kami waktu itu). Tapi lantas dia memahami, ternyata yang membuat saya berubah menjadi manis (dia berkata saya sweet and lovely) adalah karena karakter asli saya yang seperti itu (thanks for that, i take it as a compliment). Tapi, tahun lalu saya sangat rude terhadap mereka, karena saya sedang stress.

Mereka berkata, bahwa waktu itu mereka tidak tahu rasanya. Dan tahun ini mereka merasakan yang saya rasakan. Mereka menjadi sangat sensitif pula, bahkan tak jarang bertengkar dengan kawan sampai membuat kawannya menangis.

Mereka sangat berterima kasih pada saya karena saya mengerti dengan kesensitifan mereka. Dan mereka bilang, andai mereka mengerti posisi saya, mungkin mereka tidak akan membuat orang2 itu menyerangku.

Dan saya, hanya tersenyum dengan pengakuan mereka.

Ya...kadang memang kita bersikap seperti itu. Selalu complain tentang sikap orang lain. Tapi, kita tak pernah berpikir, ada apa? mengapa?

Seperti yang aku tulis di postikan yang lalu, bahwa dibalik sebuah sikap orang lain, pasti ada sesuatu rahasia yang kita tidak mengerti.

Saya pun mengerti benar yang mereka alami, persis seperti yang saya alami tahun lalu. Makanya, saya hanya tersenyum dan mencoba untuk ndagel di lab engan tujuan untuk membuat mereka sedikit rilex.

Ah...if you were in my shoes...

Andai kamu ada di posisiku....

teman, mulai sekarang, marilah kita menjadi pribadi yang penuh toleransi. Berusaha untuk mengerti situasi orang lain. Karena belum tentu orang disekelilingmu yang kamu kira berbuat tidak menyenangkan adalah orang jahat. Bisa jadi dia menyembunyikan masalah yang kamu tak pernah mengetahuinya.

Bersikaplah manis padanya, tenangkan dirinya. Sabarlah. Karena suatu saat kamu pasti akan mengalami hal yang sama dengannya. Tuhan maha adil bukan?? Hanya waktu saja yang berbeda :)
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
November 15, 2014 at 4:06 AM delete

semangat mba , don't easyly to give up \ ^,^ /
Kunjungi blog ku juga mba septiadiridwan.blogspot.com

Reply
avatar
Ai Diana
AUTHOR
November 15, 2014 at 3:08 PM delete

makasih ridwaaaaannnn....
kl bnyk yg nyemangatin aku jg semangan hihi
okeee aku main2 ke blogmu :D

Reply
avatar