I Fall in the Autumn (7)

Seusai ujian, selama satu minggu ada masa dimana para murid bebas dari kegiatan belajar mengajar. Masa2 ini biasanya digunakan un tuk kompetisi pertandingan olahraga antar sekolah. Seperti yang SMA ini lakukan tiap tahun. Dan pagi ini, adalah awal dari pertandingan pertama kompetisi basket antar SMA sekota ini.

Aku melangkahkan kakiku seperti biasa dari parkiran sepeda. Mataku tertuju ke dinding pengumuman sekolah. Biasanya nilai ujian akan terpampang di papan ini. Rupanya hari ini belum dipasang. aku sebenarnya agak khawatir dengan nilaiku. Aku pun masih bingung dengan pilihan jurusan nanti. Aku tak mahir dalam menghitung matematika, tapi aku selalu jeblok di urusan geografi dan ekonomi. Apa aku ambil sastra? Ah, tapi aku tak sepuitis itu.

Haaaaaaaahhhh.... aku merarik nafas panjang dan duduk di tepi lapangan basket. Kulihat beberapa tim basket dari kelas 2 sudah melakukan pemanasan. Tiba2 saja sebuah tangan menutup mataku. Aku terkejut dan secara reflek melakukan pukulan ke belakang melalui siku ku.

" Wow...wow....kalem Em..kalem" teriak si pemilik tangan sambil melepas tangannya dari mataku. Aku mengenali suara itu, Deni, teman mainku saat kecil.

" Ngapain disini??? " Tanyaku heran

" Hari ini jadwal tanding sekolah kita tau, tapi kayaknya aku kepagian. Kata temen2 mainnya jam 9, mereka berangkat dari sekolah jam 8, tapi males ke sekolah dulu, ya udah kesini langsung aja. Sekalian liat persiapan tim lawan. eh..ketemu ratu mujaer hahaha "

" haaaaah, kalah juga ntar pasti" jawabku sinis sembari dibalas dengan jitakan kecil di kepalaku.

Deni satu tahun diatasku. Dia sempat mengenyam SD dari kelas 4 hingga lulus SMP di kota sebelah mengikuti tugas ayahnya yang jadi tentara. Kemudian dia kembali ke kota ini meneruskan ke SMK terbaik di kota ini. Teknik mesin adalah jurusan yang dia pilih. Tapi aku tak pernah memanggilnya dengan sebutan kak, hanya nama, seperti waktu kami kecil. Dia selalu menyebutku dengan panggilan ratu mujaer karena kegemaranku mengejar Deni, Satria dan kawan2nya saat hendak mencuri ikan mujaer yang bapak sebar di sawah.

"Hoi hoi jangan bikin aku cemburu ya kalian!! "

Tiba2 kami dikejutkan dengan suara renyah yang sudah kami kenal benar. Kami menengok, dan nampak si pemilik suara itu menggendong bola basket di tangan kanan sembari tangan kiri berkacak pinggang.

" wohooo satria, siap2 untuk kalah kau hari ini " tantang Deni, " hari ini sang ratu pasti berpihak padaku" katanya sambil menarrangkulkan tangannya ke pundakku.

" Esh esh, siapa bilang tuan visitor?? Dia akan berpihak pada sekolahnya " Kata Satria sambil menarik tanganku.

" Kamu cemburu??? karena dia akan memihakku?? " kata Deni sembari menarik tanganku ke tempatnya.

Aku mulai jengah dengan kelakuan dua sahabatku ini, tanganku sudah mulai sakit.

" Diam!! Sakit tau ah " kataku sedikit ngambek. Mereka berdua malah tertawa.

" Gini aja deh ya, siapa yang kalah, harus traktir yang menang plus aku, gimana?? " Tantangku dengan pose centil.

" Yah enak di kamu donk " Protes Satria disetujui oleh Deni

" gak mau ya udah " Kataku sambil berjalan ke arah kelasku

" Iya deeeh nyonya ratu...apapun akan kami lakukan untuk kamu " kata Deni sambil memperagakan pose pelayan kerajaan.

" Cafe Ruoka ya " kataku sambil mengulum senyum licik

" Haaaaaaah?? Mahaaaaaallll " protes mereka berdua

" Habis, aku kan belum pernah kesana....... " kataku sembari menunduk dan memasang wajah kasihan

" Oke!! Cafe Ruoka!! Deni yang traktir" kata Satria bersemangat sambil masuk ke lapangan basket.

" Wait!! Kamu yang traktir ya enak aja. Hoi Emi, Satria yang traktir, catat itu ya" kata Deni sambil lari mengikuti satria kemudian memukul kepalanya.

Aku memandangi mereka berdua dengan perasaan bahagia. Aku menyukai atmosfer seperti ini. Kepada merekalah aku nyaman untuk bercerita dan bertindak seperti diriku sendiri. Meski kadang aku sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari para penggemar mereka, tapi itu tak jadi masalah buatku untuk menghentikan pertemanan kami. Satria dan Deni adalah pria2 tampan yang berprestasi, aku tahu itu dan aku bangga karenanya. Aku mengenal mereka jauh sebelum para fans menyukai mereka. Aku tahu segala kelakuan mereka baik dan buruk. Dan aku menyayangi mereka sebagai bagian dari hidupku.

Dan, mereka juga tau kepada siapa hatiku tertambat. Meski terkadang Satria sering mengeluhkan sampai kapan aku terus terhenti pada orang yang tak pernah sekalipun memikirkan aku. Aku pun tak mengerti. Namun untuk saat ini, fokusku bukanlah tentang itu. Aku hanya ingin menggapai sesuatu yang akan membuat orang tuaku dan juga mereka bangga padaku. Seperti aku bangga pada mereka.

Tunggu, aku merasakan perasaan yang tidak enak. Sepertinya ada mata yang memandangku tidak enak. Aku memalingkan pandangan ke sekeliling. Tak sengaja aku menemukan geng kelas 2 yang terkenal cantik namun kasar memandangku dengan tatapan tidak menyenangkan. Raut mereka seperti marah. Aku merasa tidak enak. Cepat2 aku masuk ke dalam kelas dengan sedikit menggigil takut, menunggu waktu bel berbunyi tanda dimulainya kompetisi basket.



Daun maple kecil atau di jepang dikenal dengan sebutan momiji. Foto ini diambil minggu lalu. baru saja minggu lalu. Tapi, kemarin sudah salju saja. Aku suka warnanya. entah kenapa aku merasa tampak cantik dengan warna merah hahahaha. Maaf sedikit narsis sekali2

Previous
Next Post »