I Fall in the Autumn (8)

Bel sekolah pagi ini berbunyi panjang. pak satpam seakan tahu bahwa hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh murid2. itu artinya, kompetisi liga basket antar sekolah dimulai. Di pertandingan pagi ini, sekolah Deni, SMK 1 all star melawan SMA kami all star. Aku berlari memasuki lapangan basket dan berdiri di dekat tim basket sekolahku. Kulihat dari kelas 1, hanya Satria dan Adrian yang memperkuat posisi tim, sedangkan Andre yang sekelas denganku duduk di bangku cadangan. Kulihat Deni menggoda Satria mengenai taruhan kami sebelumnya. setelah pemanasan sejenak, wasit memanggil kedua tim untuk bertemu di tengah lapangan. Kemudian meniupkan peluit sambil melempar bola basket tinggi2 tanda dimulainya pertandingan.

Aku berteriak menyemangati satria dan Deni. Andre yang duduk di dekatku langsung memukul tanganku.

" Dukung sekolah sendiri donk Em " katanya yang hanya kubalas dengan cengiran malu.

Pertandingan berlangsung sangat seru dan sengit. Kedua tim tidak mau untuk mengalah. Tembakan demi tembakan, lemparan demi lemparan, diwarnai dengan teriakan para pendukung, baik dari tuan rumah maupun dari sekolah lain yang ikut datang untuk menonton. aku pun melihatnya. Naoki. dia duduk di antara jajaran kelasnya. Keren sekali aku melihatnya di bawah sinar matahari pagi ini. Dia berteriak menyemangati tim sekolah kami, sambil tertawa dan bercanda dengan teman2 yang lainnya. Aku sesekali melirik ke arahnya dan menyisipkan senyum kecil setiap kali melihatnya bahagia di tengah2 keramaian. Seperti ini saja sudah cukup bagiku. Aku sudah sangat bahagia.

Pada akhirnya, sekolah kami lah yang memenangkan pertandingan dengan score yang beda tipis dengan sekolah Deni. Deni nampaknya yang paling kecewa, terlihat dari teriakan kekesalahannya yang paling keras dan panjang. jelas saja, karena dia yang akhirnya harus menraktir aku dan Satria.

Aku membuka tasku dan mengeluarkan botol minumanku. Tenggorokanku kering setelah berteriak2 tadi. Baru seteguk aku meminum air, Satria sudah merebut botol minumanku dan langsung menghabiskan setengahnya. aku teriak protes,

" Saaaaat, perampasan nih"

" Berisik, aku haus " jawabnya enteng

" Itu lhooo fansmu banyak yang siap air minuman sama handuk " kataku sambil merebut kembali botol minumanku dan memasukkannya ke dalam tasku. Jujur, aku agak takut karena melihat muka gadis2 itu begitu menyeramkan saat menatapku. Tapi Satria malah terkesan tidak peduli dengan mereka.  Aku tahu betul sifat Satria, kalau memang dia tidak begitu mengenal orang, maka dia selalu menolak apapun yang ditawarkan orang tersebut, sekalipun orang2 itu adalah fans yang selalu berusaha menarik perhatiannya.

Kulihat Deni menghampiri kami. Dia mengelus2 kepalaku sambil berkata,

" Baik baik, aku traktir yang mulia ratu ke Cafe Rouka, tapi Satria tidak"

" Lhoo??? Curang!! Janjinya kan tadi yang menang juga!! " Protes Satria keras, tapi hanya disambut dengan juluran lidah Deni. Namun pada akhirnya Deni berkata akan mentraktir Satria juga teman2 lama kami yang lain. Kita janjian akhir minggu ini untuk sedikit bernostalgia. Deni yang traktir, kebetulan bulan lalu, dia berulang tahun katanya. Ah, aku lupa. Saking lamanya tidak bertemu. Dulu waktu kecil, kami selalu membakar ubi atau ketela ketika ada yang berulang tahun, dan kami memakannya ramai2.

Sekitar tiga puluh menit kami bercanda hingga pertandingan selanjutnya antar SMA tetangga. Aku meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi, sedangkan mereka hanya bilang akan menonton pertandingan basket hingga selesai. Aku berjalan ke arah kamar mandi melewati papan pengumuman. Masih juga belum dipasang hasil ujiannya, pikirku. Tanpa perasaan apapun aku berjalan dengan santai memasuki kamar mandi.

Selesainya, aku terkejut saat membuka pintu kamar mandi. Kak Vera dan 2 orang teman segengnya, yang aku tidak begitu tau namanya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Tanpa curiga aku mempersilakan mereka, karena aku pikir mereka menunggu antrian kamar mandi. Tapi pikiranku salah, salah satu dari mereka, kulihat nama di bajunya, Marsya, memegang lenganku keras sambil bilang " Ayo ikut!! ". Tanganku terasa sakit. Aku tak mengerti apa yang terjadi.

Mereka membawaku ke belakang panggung besar yang biasanya menjadi tempat pementasan drama, musik atau pun tempat upacara wisuda. Hanya ada perlengkapan panggung disana. Kak Marsya menghempaskan tubuhku ke depan hingga punggungku terkena pinggiran blok kayu di pojokan.

"Ada apa ini kak? " tanyaku dengan nada bingung bercampur takut.

Kak Vera mendekat kearahku sambil menyilangkan tangan di dada.

" gue ga peduli lo mau kecentilan di depan Satria. Tapi lo sampai berani kecentilan di depan gebetan gue, bikin risih tau gak??" semprotnya dengan nada galak. aku masih bingung dengan siapa yang dia maksud.

" Deni dari SMK 1, tadi pagi kita liat lo kecentilan sama dia. Heran darimana dia bisa kenal makhluk busuk macam lo gini" kata kakak satu lagi yang kulihat namanya Riandita, sambil mendorong bahuku hingga membuat aku mundur dua langkah ke belakang. Oh jadi inilah yang membuat mereka menatap tidak menyenangkan tadi pagi.

"Deni gebetan gue. Lo jangan sekali2 kecentilan kayak tadi. Tadi pagi udah bikin eneg ngeliatnya, pas pertandingan, makin eneg aja gue. Dirasa lo paling cantik gitu?" teriaknya kasar.

" Enggak kak, tapi kan Deni itu temen aku kak..." kataku dengan nada sedikit takut, "...apa salahnya sih kalau berkumpul dengan teman sendiri, toh ga ada niat kecentilan godain apa segala macem. Kita temenan juga udah lama banget..."

"Nyolot lo ya!!!" kata kak Vera dengan posisi tangan melayang ke atas siap untuk mendaratkannya di pipiku. aku hanya bisa memejamkan mataku sambil sedikit menundukkan wajahku, berharap agar hal itu tidak terjadi. sekian detik kemudian, aku merasakan tidak tersentuh apapun pada wajahku. sedikit heran, aku membuka mataku sebelah kulihat sebuah tangan kekar memegang tangan kak Vera dengan keras.

" Belakang panggung digunakan untuk persiapan pementasan, bukan untuk melabrak orang. Cari tempat diluar, jangan mempermalukan sekolah saat banyak pengunjung" kata si pemilik tangan itu dengan tegas. Kubuka mataku semuanya, Adrian, dia memegang tangan kak Vera kuat2. Dua teman kak Vera hanya bisa terdiam, seolah takut karena mata Adrian yang menatap sangat tajam. Masih dengan memegang tangan kak Vera, dia berkata padaku masih dengan nada yang tegas, "kamu dipanggil guru BK sekarang".

Aku hanya mengangguk dan cepat2 pergi dari tempat itu tanpa banyak bicara. Jantungku berdebar keras, dan cepat2 menuju ke arah ruang Bimbingan Konseling. Samar saat aku keluar dari ruangan itu, kudengar Adrian dan kak Vera terlibat sedikit adu mulut sebelum Adrian meninggalkan mereka yang dengan kesal menendang tumpukan kursi. aku masih mendengarnya, tapi aku cepat2 berlalu. Dalam hati, aku sempat mengutuk keras kedua sahabatku yang menempatkan aku pada posisi yang sulit seperti ini. Rasanya kesal sekali untuk terus dimusuhi oleh banyak wanita. Padahal, aku tak pernah sekalipun merasakan sesuatu yang spesial.

Foto ini, bisa dibilang sebagai mahakaryaku. habis, dari banyak foto yang aku ambil, ini yang menurutku bagus. angle nya pas, suasananya keren, dan komposisinya bagus. Cuacanya juga pas cerah dan tidak berangin. Foto ini diambil tahun lalu, 2013. Aku suka musim gugur (tapi tidak suka ketika berangin, dingin sih)

Previous
Next Post »

3 comments

Write comments