Winter Rhapsody (1)

"Teeeeeeeeeeeetttttttttttttttttt ttteeeeeeeeeeeeeeeeeettttttttttt teeeeeeeeeeeeeeetttttttt"

"Brak!!!"

Alarm sialan. Entah kenapa selalu saja membangunkan aku terlalu dekat dengan telinga. Padahal aku sudah menempatkannya jauh2 dari kepalaku. Kubanting jam weker ini ke bawah. Kubuka mata dengan ogah2an. Kulihat kebawah dan...

" Haaaaaaahhhh!!! Jam 7!!!!!! " Aku segera bergegas ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Kadang aku benci musim panas. Karena kantor menjadi masuk lebih cepat. Setengah jam kemudian aku sudah siap dengan segala perlengkapan kantor. Setelah ku kunci pintu apartemenku, aku berlari menuju ke halte bus.

Oh tunggu, aku lupa kartu pengenalku. Aku berlari dengan segera untuk mengambil kartu pengenalku. Dan bergegas ke halte bus. Aku tak mau tertinggal satu hari pun untuk mendapatkan bis jam 8.00 tepat.

Namaku Andriana Sasi, orang2 memanggilku Sacchi. Aku sudah tiga tahun tinggal di Jepang. Ini adalah tahun ketigaku mendekati tahun keempat. Dua tahun pertama aku gunakan untuk berkuliah master di salah satu universitas di daerah Tokai. Tahun lalu, aku pindah ke Tsukuba setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang untuk menjadi salah satu staff di sebuah research center terbesar di Jepang. Tapi hal itu terbayar, dengan pemandangan tempatku bekerja yang sangat indah. Meskipun kerja disana sangat menyita waktu tenaga dan pikiranku.

Apartemenku di dekat stasiun. Jelas saja sewanya agak mahal. Tapi untunglah kantor membayarkannya untukku, meskipun gajiku harus kurelakan sedikit terpotong untuk itu. Tapi itu nyaman untukku karena dekat dengan pusat kota.

20 menit aku sudah sampai di pemberhentian bus seperti biasa aku menaiki jurusan ke kantorku. Mataku masih mencari2 sosok seseorang yang 3 bulan ini selalu mengganggu pikiranku. Tapi yang kudapati hanya dia. Dia, laki2 yang sebenarnya tidak kuinginkan dalam pandanganku. Aku bahkan tak tahu siapa namanya. Tapi rupanya Tuhan ingin mengajakku bercanda dengan selalu menghadirkannya di hampir sepanjang hari2ku, terutama setiap pagi dan sore.

Aku bertemu dengannya ketika pertama kali datang ke kota ini. Dengan membawa dua buah koper dari stasiun, aku tersesat meski aku menggunakan aplikasi Google Maps di smartphoneku. Aku harus menemukan hotel tempatku transit paling tidak untuk dua hari kedepan sebelum aku menempati apartemen yang dijanjikan oleh kantor, yaitu apartemenku sekarang.

Aku bertemu dengannya di depan hotel besar. Dia sedang menelepon saat aku melihatnya di seberang jalan. Aku mulai kehilangan arah ketika tiba di dekatnya. Yaitu ketika ada jalan kecil di sebelah hotel, peta menunjukkan bahwa aku harus melalui jalan itu, tapi ada jalan lain yang di sebelahnya. Oh tidak, banyak jalan dan aku mulai kebingungan. Kulihat dia mendekatiku setelah menutup teleponnya.

" Ada yang bisa dibantu?" tanyanya sopan sekali dalam bahasa Inggris.

" Ah, aku tersesat. Aku harus ke Hotel ini dan aku tak tau harus lewat jalan yang mana. You know, aku selalu bermasalah dengan peta" jawabku

" No problem. Kamu beruntung punya google maps di hape, aku bahkan tak punya smartphone " katanya sambil tersenyum dan kusambut dengan senyuman juga. sekilas kulihat dia ketika sedang mempelajari arah peta. Mukanya memang bukan Japanese. aku pikir dia dari daerah Timur Tengah. Karena muka arabian dengan mata coklat lengkap dengan bulu mata yang lentik khas orang2 arab timur tengah. Dan juga, dia menyapaku dalam bahasa Inggris. Tingginya sekitar 175 cm, agak pendek bila dibandingkan dengan orang2 Timur Tengah lain yang sering kutemui di kota sebelumnya.

" Aaa...I know, kamu harus ikuti jalan ini lurus saja sampai ketemu perumahan baru belok kanan, nanti kamu ikuti jalan ini " Katanya sambil menunjukkan arah.

" Well...oke...thank you very much "

" Researcher?? "

" a kind of but I like to call myself as a staff, maybe " jawabku

" Researcher dari seluruh dunia berebut untk bisa masuk ke kota ini. You beat the test, let me say congratulations " katanya sambil tersenyum.

" Thank you. And also for your help. Bye" kataku sambil menarik koperku

" See you around " Katanya sambil tersenyum manis

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan berjalan ke arah tempat yang akan kudatangi.

Nice, memang. Tapi setelah itu, aku bertemu lagi di depan stasiun. Sekali, dua kali dan setiap hari. Dia selalu menggodaku. Bukan hal yang menyebalkan sebenarnya. Sampai hal itu terjadi. Awal winter, tepat pada saat malam natal.


Winter pertamaku loh ini. Aku sukaaaaaaaaa....sayang setelah ini tempat ini, yang tidak lain adalah kampusku, tidak pernah terlihat pemandangan seperti ini. Jadi merasa beruntung karena telah mengalami salju yang indah. Tapi sekarang, kalo disuruh saljuan lagi...mmmm aku pilih summer lah hehe




Previous
Next Post »