I Fall in the Autumn (11)

" Emi "

Langkahku terhenti pagi ini ketika satu suara yang ku kenal memanggilku dari belakang. Naoki. aku menengok dengan hati yang berdetak kencang.

" Eh iya? "

" Anu, hari ini jadwal praktikum Biologi sudah diumumkan. Kelasmu dan kelasku di hari yang sama, Rabu. Rupanya kelompoknya dibikin acak. Kita satu kelompok. Mohon kerja samanya ya. "

" Iya....sama2... " Aku hanya bisa menjawab lirih dengan terbata, seakan tak ingin Naoki mengetahui kegembiraan hatiku dan debaran jantung yang sangat keras ini.

" Kamu nggak papa? Koq bengong gitu? " Katanya sambil mencondongkan kepalanya ke arah wajahku, membuat wajahku memerah.

"Kamu sakit?", tanganya meraih keningku, "ya ampun panas, ke UKS gih"

" nggak...nggak apa2 koq. Makasih infonya ya Naoki... sampai bertemu Rabu " kataku sambil bergegas memasuki kelas, dan meninggalkan dia dengan gumamannya yang masih samar ku dengar " beneran nggak sakit kah??"

Ya ampun, apa2an aku ini!!! Kesempatan langka malah aku sia2kan dengan ketololanku ini. Aku meletakkan tanganku di kening, jantung ini terasa semakin berdebar, membuat aku tersenyum malu. Tanpa sadar Satria sudah duduk di depanku dan tersenyum mengejek.

Hari berlalu, tanpa sadar sudah hari rabu. Sedari pagi jantungku berdebar kencang sekali. Aku menunggu jam praktikum biologi. Sampai2 aku tidak fokus pada pelajaran olah raga pagi ini dan harus rela menjadi bahan tertawaan teman2 sekelas karena salah melakukan gerakan senam yang menjadi mata pelajaran kali ini. Dan saat praktikum hampir dimulai, aku sama sekali tak berani ke ruang laboratorium. aku mengintip dari balik tembok di ujung ruangan. Kulihat Naoki sedang berdiri di depan pintu, bercakap2 dengan teman sekelasnya. Aku  berdebar memegang ransel di pundakku. Tiba2 saja sebuah tangan mengusap kepalaku. sebelum aku sempat menengok, sebuah suara yang kukenal terlebih dahulu terdengar.

" Tarik nafas panjang lalu beranikan dirimu mengambil kesempatan "

" Adrian.... "

" Kalo pingsan nanti aku kasih nafas buatan Em ", Satria tiba2 muncul di belakang Adrian sambil tertawa mengejek

" Males banget!!! ", kataku setengah kesal malah disambut tertawa dua berandal itu. Aku berjalan memasuki ruang laboratorium dengan cuek. Entah kenapa aku menjadi berani. Mungkin gara2 kesalku pada Adrian dan Satria yang tak pernah puas mengejekku tentang naoki. Saat praktikum berlangsung, aku menoleh ke arah Satria, dan dia tertawa sangat puas. Ya sudahlah, rasanya senang sekali Rabu ini.


melihat bayanganku sendiri di antara daun2 yang berguguran
Previous
Next Post »