Dialog: Masalah Hidup Jangan Dipikirkan tapi Dijalani

Masih tema tentang complain, atau mengeluh pada hidup.

Beberapa hari ini saya seakan dituntun Tuhan untuk bisa lebih mensyukuri hidup. Yah, meskipun ngenes tapi harus tetap disikapi secara elegan donk ya. Dan setelah percakapan saya via line dengan Chandra Icang beberapa waktu lalu, maka kali ini saya berkesempatan melakukan dialog dengan teman saya disini, Iqhfal (bukan nama sebenarnya, katanya disuruh sensor, sudah disensor ini loh :D ).

Setelah berkeluh kesah tiap ritual ngepet malam tentang kerasnya hidup yang saya jalani, saya kemudian seakan ditunjukkan oleh Allah, sesuatu yang meringankan beban saya. Ya, dengan mengenal teman saya lebih dekat, yang sebelumnya biasa saja, hanya mengenal dari luar. Sebelumnya, saya selalu berpendapat bahwa beliau adalah orang yang pendiam, tapi santai. Seakan hidupnya tidak ada beban. Isyu yang saya dengar sebelumnya bahwa beliau kemari dengan tanpa beasiswa sama sekali, baru belum jalan 6 bulan di jepang, beliau sudah banting tulang kerja. Tapi dari raut wajahnya yang kadang cengengesan, membuat saya berfikir, benarkah hidupnya baik2 saja?

"Masalah hidup jangan dipikirkan. Jalani aja. Pusing kepala kalau dipikirin, bisa gila, Ai"

Kata2nya setiap kali ditanya tentang masalah umum -yang semua orang punya-. Saya, berkesempatan mengenal bagaimana kerasnya perjuangannya, apa rencana kedepannya, bagaimana beliau mengatur segala macam keuangannya, menyelesaikan masalah2. Saya jadi malu sendiri. Masalah umum tersebut (keuangan), paling tidak saya masih bersyukur, meskipun harus menunggu lama agar stabil nantinya, tapi, setidaknya saya masih dibebaskan untuk pembayaran kuliah. Beliau tidak. Beliau harus membayar sendiri. Belum lagi untuk hidup, belum lagi untuk menabung, belum lagi untuk menyenangkan hati orang tuanya. Setiap anak pasti menginginkan membelikan sesuatu untuk orang tua, bukan?

Saya jadi malu sendiri. Tuhan menegur saya dengan menunjukkan perjuangan orang yang lebih hebat dari saya. Dari segi emosi, beliau sangat tenang. Ya memang, seperti yang beliau katakan, masalah hidup dijlani saja. Mengalir seperti air. Bukankah Tuhan menciptakan masalah dan juga cara penyelesaiannya? Sabar, itu adalah kuncinya. Terkadang, manusia membuat keadaan menjadi runyam akibat tidak mau bersabar. Dan saya, pribadi, sering melakukannya. hehe

Saya ingat, pernah seorang ibu berkata pada saya, " Kalau si Zuhud (nama teman saya), punya banyak baito (part time job), kita harus maklum. Dia kan cowok, tanggung jawabnya lebih besar. Kalau kita, cewek, ada yang akan memikul tanggung jawab.". Saat itu saya sedikit tidak terima, masak karena saya cewek lantas saya nggak boleh punya banyak duit. Tapi rupanya, ibu itu ada benarnya. Ya, para laki2 akan dituntut pride atau kebanggaan lebih tinggi di hadapan mertuanya saat melamar calon istrinya nanti. Dan seperti Zuhud, teman2 saya disini, dan Iqhfal pun pasti begitu. Maklum, mereka masih single gitu di KTP (saya nggak tau, dan nggak mau tau urusan mereka sudah punya calon atau tidak hehe).

Dan saya begitu salute terhadap teman2 saya itu. Bekerja keras, dan masih gampus, penelitian, publish paper. Bisa dibayangkan, bukan. Masalah kami, bukan hanya tentang galau jomblo di malam minggu. Masalah kami bukan hanya sekedar ngerjain penelitian, skripsi yang ah nggak ada apa2nya dibandingkan dengan thesis dan disertasi, apalagi publish paper. Masalah kami bukan hanya mau makan apa besok, tapi lebih lagi, mau dikasih makan apa anak orang? Masih banyak lagi masalah yang harus dihadapi. Tapi ya itu, ga usah mikir masalah. Jalani saja. Bersabar. Tuhan akan mendekatkan jalan keluar jika kita mau bersabar dan berusaha mencari jalan penyelesaian tersebut. Dan kalaupun di sosial media kami terlihat banyak senyum, bersenang2 dan menghambur2kan uang, maka pencitraan kami berhasil dengan baik.

Seperti prinsip hisup saya yang saya dapat dari mbah Wibowo Jo, "Hidup itu sudah penuh masalah, tambah satu masalah lagi ya nggak masalah". Maka, jalanilah hidup dengan santai dan bahagia. Hidup hanya sebentar. Sayang, apabila kita menghabiskan waktu di dunia ini dengan muka kusam. Belum tentu juga di akhirat kita bisa cengengesan, bukan? Tidak ada yang bisa menjamin kita masuk ke surga, bukan? Makanya, daripada bermuka kusam, mending kita banyakin senyum. Biar muka kita cerah. Masalah hidup ya jalani aja. Tuhan pasti akan menuntun kita, bukan? Sapa tau, kalau muka kita cerah, jodoh akan cepat datang. Nah, selesai satu masalah kejombloan, hihihi.

Ya sudah, karena sepertinya tanda2 orang Kuroneko (paket seperti JNE) nggak akan datang pagi ini, maka saya harus siap2 ke kampus. Masalah sama sensei soal penelitian, jalani aja lah. Kalo mentok, ya udah pulang Indonesia aja lagi. Nikah deh. Selesai satu masalah. hahaha

Doaku untuk semua teman2 yang sedang berjuang, apapun masalah kita, jalani yuk dengan senang hati. Dengan ikhlas, dan dengan penuh harap. Dunia dan segala macam teknologi yang ada, kadang selalu berhasil mengalihkan harapan yang dulu saat kita kecil selalu kita dengungkan tiap hari. Kadang, senyum2 kalian yang ikhlas, dan bersahabat, adalah hal2 yang saya rindukan. Terutama Zuhud. Jarang sekali saya lihat dia senyum lagi hehee. Ya iyalah, ketemu juga jarang. Bukan hanya buat mereka berdua, tapi juga untuk mas Irwan yang baik hatinya keterlaluan, dan buat gadis2 yang juga sedang berjuang baito di buah kaki hihihi. Semoga kita semua bisa sukses setelah perjuangan berat ini. Seperti  berpanas2 menyortir bunga kaki agar buah yang dihasilkan bagus di musim panas, kita bisa menikmati manisnya buah kaki di musim gugur yang sejuk. Seperti itulah gambaran masa depan kita. (tolong abaikan musim dingin).

Karena sudah menemani dialog saya, walau pada akhirnya dia bilang "Nggak mau ngomong lagi ah, harus bayar nih, ichi mang (10.000 yen) dulu, bayar didepan". Ah Iqhfal, pelit juga -_____-. Nah, ni, bonus buat kamu, dan teman2 semua, mbak cantik ini lagi nyanyi lagu bagus, dengerin yaaa
Previous
Next Post »