Menikah

Tak banyak yang tahu seperti apa kisah hidup dan lika-liku kehidupanku seperti apa. Termasuk soal bagaimana dan kapan aku akan menikah. Tapi itu nggak penting. Kali ini, saya mau berbagi pikiran dan pendapat pada kalian mengenai menikah, dimata orang yang belum menikah. Beberapa hari yang lalu, banyak sekali curhatan yang sampai kepada saya mengenai keinginan beberapa teman untuk menikah. Ada yang sedang menanti calon pendamping, ada yang sedang menunggu prosesi lamaran, ada yang sedang menghitung hari, ada pula yang sedang bimbang dengan piliahan menikah atau studi. Macam2 kasusnya.

Bagi kami, orang yang dengan tingkat pendidikan sedikit lebih tinggi diatas wanita kebanyakan, ada banyak hal yang kami pikirkan lebih dari sekedari menikah dan mengurus anak. Kesampingkan dulu soal agama dan aturan2 bahwa wanita harus dirumah. Kami, sepakat untuk membenci pendapat picik seperti itu. Saya pribadi, berpendapat bahwa sudah seharusnya wanita bersekolah setinggi2 nya. Mempunyai banyak sekali ragam ilmu pengetahuan. Tidak cuma sekedar kulit luar, tidak hanya sekedar bagaimana cara memasak cordon bleu atau kue2 lebaran, tidak hanya sekedar bagiaman bisa menjalankan bisnis online dirumah sambil momong anak.

Karena wanita adalah madrasah pertama bagi anak2nya. tempat dimana anak2 menimba ilmu. Wanita, dengan segala macam pengetahuan yang ia miliki, dan kemampuan pengaturan psikologis yang baik, pastilah akan menghasilkan anak2 yang bukan hanya berakhlak mulia, namun juga smart, pintar, pantai, brilian, jenius. Setidaknya itulah impian saya.

Kami, tidak pernah lepas dari cibiran2 yang mengatasnamakan umur. Tapi, pernahkah kalian terpikirkan, sebenarnya, menikah itu apa? Tujuan menikah itu untuk apa? Dan apakah menikah itu adalah segampang yang pada kenyataannya? Ok , mungkin menikah itu gampang, bagi mereka yang jodohnya sudah ditulis cepat. Namun bagi yang tidak pernah tau, orang yang pernah dua kali gagal menikah seperti saya ini, lantas kemudian selalu disindir tentang pernikahan, apa pernah terpikirkan bagaimana perasaannya? Tidak bukan? Lantas, saya ingin kalian jawab, tujuan menikah itu apa? sekedar berumah tangga, punya anak? Ibadah?

Menikah itu ibadah. Iya. Namun, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi orang2 mengapa hingga usia sekian belum menikah. Wajar saja. Jawaban simpel adalah, karena Tuhan menuliskan pernikahan di umur berapa, dengan siapa, acaranya seperti apa, maharnya berapa, itu jauh sebelum manusia itu lahir. Bukan ditulis oleh manusia itu sendiri. Lantas, sindiran itu, sejatinya tidak lebih dari upaya pamer semata. Pamer karena dia telah menikah, sedangkan temannya belum. Pamer dirinya punya suami yang mapan, sedangkan temannya masih jomblo. Pamer dirinya sudah punya anak, sedangkan temannya masih sibuk nulis disertasi. Ah, saya juga bisa pamer, gelar saya banyak, terek2 di belakang nama saya koq.

Dan beberapa hari yang lalu juga, saya kaget dengan pernyataan teman saya yang saya pikir itu bodoh sekali. Dia, bahkan lebih muda dari saya, namun dia sudah sebegitu frustasinya tentang pernikahan. Dengan gaya yang -maaf- sedikit angkuh, dia bilang "sama siapa aja juga boleh", ketika ditanya sama siapa mau menikah, karena dia masih jomblo sih. Duh dek, saya itu yang 3 tahun lebih tua dari kamu aja nggak sebegitu frustasinya loh. Hanya karena dia mendengar salah satu rekan kami tiba2 saja mengumumkan pernikahannya. Lantas, dia kemudian seolah kebakaran jenggot untuk kemudian ikutan menikah. Lha njuk, tujuan menikah buat kamu itu apa??

Lha kalau misalkan Tuhan mengaminkan perkataanmu yang sama siapa saja boleh, lantas kamu diberi jodoh laki2 bejat, tukang selingkuh, pemabuk, tapi siap menikahimu saat itu juga, kamu mau bilang apa? menolak? Lho, nggak konsisten donk dengan perkataanmu. Kalau saya ketemu langsung dengan orangnya, sudah saya tampar benar2. Sayang, kami jauhan sih hehe.

Hidup ini indah. Dan wanita tidak boleh hanya terpaku dengan kata pernikahan saja. Kalaupun kita belum diberi jodoh saat ini, itu berarti memang perjalanan kita masih lebih menarik dan Tuhan memberi kesempatan kita untuk bersenang2 dengan apa yang kita lakukan sekarang. Kerjaan kita, studi kita, apapun itu percayalah, sabarlah, waktunya itu akan datang juga.

Cobalah tengok lebih jauh pada teman2 kita yang terburu2 mengambil keputusan untuk menikah di usia yang sangat muda, dengan pengetahuan yang -maaf- lebih sedikit dari kita, dengan tingkat kemapanan yang seharusnya belum bisa dikatakan sebagai mapan. Lihat hidup mereka. Benarkah bahagia? Tanpa harus mikir bagaimana sewa kontrakan, bagaimana beli makanan anak2, bagaimana untuk sekolah. Belum lagi, kalau suaminya yang masih sama 2 muda dan labil itu bertemu dengan wanita lain, terus selingkuh, kemudian cerai dll. Ada koq kasus2nya. Kita cuma kurang observasi aja.

Menikah itu sakral. Menikah itu menyatukan dua hati, dua keluarga, dua dunia menjadi satu kesatuan yang utuh. Sudah siapkah kamu menafkahi dan melayani dua keluarga besar yang dari kita tidak mengenalnya, menjadi harus mengenal dan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya?

Menikah itu bukan hanya proses pengucapan ijab qobul. tapi bagaimana kehidupan setelah itu. Bekal apa yang kamu punya untuk memulai hidup dari awal? Kami, memilih untuk mencari bekal pengetahuan sebanyak2nya, bekal uang sebanyak2nya, biar kalau langsung hamil, kami nggak ngutang ke orang tua atau teman. Ah, aku pun sedang banyak hutang. percayalah, punya hutang itu nggak enak. Kita nggak bisa menikmati hasil kerja keras kita sendiri.

Duh dek, saya kalau ingat perkataanmu yang mau nikah sama siapa aja itu bikin hatiku sakit. Masak kamu yang masih lebih muda dari saya ini sefrustasi itu. Saya khawatir nanti jangan2 dia bisa belok haluan saking frustasinya tidak bisa menikah cepat. Santai2lah dulu. selesaikan studi kita, tabung uang2 kita, persiapkan psikologis kita untuk membangun hidup bersama orang lain. Tuhan itu tidak pernah gagal dalam merencanakan sesuatu koq. santai saja. Hidup ini indah. Dan masih banyak hal yang bisa kita kerjakan sembari menunggu hari H yang telah dijanjikan Tuhan.




Previous
Next Post »