There is no 100% safe place in the world

Kejadian ini baru saja saya alami malam sabtu kemarin (24 Juli 2015), tepatnya pada pukul 11:30 malam. Kejadiannya berawal dari saya kembali dari kampus, ada acara potluck party di sore hingga malam sehingga saya harus pulang dari kampus jam 9 lewat. Kemudian bersama dengan satu orang teman senegara yang saya temui di Mini Stop (sebangsa Indomaret), kami pergi ke sebuah kafe untuk makan malam (yang telat). Kami pulang dari cafe pukul 11:15 dan saya seperti biasa mengendarai kereta angin saya perlahan2.

Sebenarnya, bukan kali pertama saya pulang di malam hari. Kadang lewat jam 1 malam pun saya pulang sendirian atau bersama teman, tak pernah ada kejadian seperti ini. Jepang adalah negara yang menjunjung tinggi keamanan warganya, terutama untuk daerah kota kecil dan lingkungan dekat universitas. Saya masih bisa memaklumi apabila hal yang saya alami terjadi di kota besar, atau di daerah2 dekat stasiun kereta api besar. Namun, di daerah dekat universitas yang lokasinya terbuka, pinggir jalan raya dan hanya berjarak 100 m dari kabntor polisi, saya akui itu adalah sebuah tindakan yang sungguh nekat.

Sekitar pukul 11:30 saya sudah sampai di jarak sekitar 150 m dari apartemen saya. Dekat sekali. Di dekat gedung koperasi unit desa (JA - Japan Agriculture) area kampung tempat saya tinggal, ada sebuah tempat parkir yang lumayan luas, dengan dua buah vending machine dan 1 buah lampu penerangan yang cukup terang. Saya seperti biasa mengayuh sepeda dengan kecepatan sedang, seperti biasa saya pulang. Jarak 5 meter dari TKP, saya melihat ada mobil dengan lampu menyala. Saya sedikit lega karena masih ada orang rupanya. Namun ternyata, setelah sampai di TKP, tiba2 ada laki2 yang berlari menuju ke arah saya. Saya menengok ke kanan, ke arah datangnya dia, pikir saya " siapa?mau apa?mau tanya atau apa?". Orang itu sama sekali tidak mengucapkan satu kalimatpun, dan saya seketika sadar bahwa itu orang nggak pakai celana. Dan dia berlari dengan memegang alat kelaminnya. Saya kaget dan sangat takut. Saya kayuh sepeda saya kencang dan dia masih mengejar saya hingga ujung parkiran, dan jarak dia dengan sepeda saya sudah sekitar 1 m. Tapi saya tetap kayuh sepeda dengan gemetaran. Saya takut kalau2 diculik atau bagaimana, mengingat orang itu membawa mobil. Saat di depan gedung JA, saya tengok ke belakang, takut kalau saya masih di kejar, namun ternyata orang itu berlari mundur ke arah mobilnya. Karena takut kalau saya diintai, saya tidak berani pulang ke apartemen. Mengingat banyak teman perempuan yg juga tinggal disana. Hanya dalam hitungan detik, saya langsung membelokkan laju sepeda saya ke arah lain dan saya harus membangunkan teman saya untuk menumpang sampai pagi menjelang.

Pengalaman ini bukanlah yang pertama sebenarnya. Saat masih di UNS, saya pernah mengalaminya sekali. Namun saat itu saya tidak dikejar, hanya melihat orang tersebut menunjukkan kelaminnya. namun karena saya ketakutan, akhirnya saya pun segera cepat2 berjalan. Tapi, ini di Jepang dan dekat dengan kantor polisi. Dan benar2 saking ketakutannya. Masalahnya saya dikejar. Ketika saya menceritakan pengalaman saya di sosmed, banyak teman laki2 (dan beberapa perempuan, dan yang senegara) justru menertawakan saya. Tapi, saya nggak mau ambil pusing, karena saya tahu, mereka tidak sedang dan tidak pernah ada dalam posisi seperti saya. Hanya saya, jiak suatu saat kalian mengalami yang seperti saya alami, di negara orang dengan tingkat kriminal yang aneh2 dan sebagainya, apa yang akan kalian lakukan? Saya mau teriak aja udah tercekat rasanya. Saking gemeterannya, sampai esok siangnya saya masih gemeteran.

Banyak sahabat yang menyarankan saya, malam itu juga saat saya post di sosial media, untuk melapor ke polisi. Akhirnya saya lakukan saran mereka. Pagi harinya saya datangi kantor polisi untuk melapor. Awalnya saya takut, namun rupanya polisi di Jepang sangat yasashi (baik dan lembut tapi tegas). Mereka mempersilakan saya duduk, membuatkan teh dan menginterogasi saya dengan cara yang santai sehingga tidak terkesan saya sedang melapor atau diinterogasi. Saya ceritakan kronologis kejadian, dan mereka mananyakan banyak hal hingga 1.5 jam lamanya. Mereka memperlihatkan pada saya daftar orang2 yang bermasalah dengan kasus serupa, kali2 ada yang nyangkut. Namun saya tidak bisa melihat jelas muka orang tersebut, hanya penampakan seperti rambut, tinggi kira2 jenis baju, warna mobil. Dan saya tunjuk beberapa foto yang penampilan kepalanya mirip di siluet yang saya lihat malam itu. Setelah itu, langsung hari itu juga, mereka meminta saya menunjukkan TKP dan mengambil gambar kronologis saya malam itu juga sebagai olah TKP.

Sebagai penggemar detective conan dan selalu tidak ketinggalan menonton animenya, saya jadi seeprti merasakan sedang shooting film conan. Kata2 yang sering saya dengar seperti keibu (detective/polisi bagian interogasi), hannin (pelaku), da deduksi2 ala conan pun membuat saya berasa seperti larut dalam film conan. Tanpa sadar pun saya ikut memberi keterangan dengan sedikit deduksi seperti " warna asli mobilnya saya tidak tahu, namun yang saya lihat hitam".

Yah, sepertinya saya sedang ditegur Allah untuk tidak sering2 terlalu berani pulang malam sendirian. Rupanya, masih mending saya ketakutan karena di jalan lihat hantu daripada lihat kriminil seperti itu. Tapi, mendingan nggak ketemu semuanya deh.

Keep your eyes and ears open. There is no 100% safe place. Don't stay late at lab. Try to go everywhere with care, kata banyak sekali sahabat saya. Yah...pada akhirnya, dengan teguran ini, saya memang harus kembali menjadi anak rumahan yang tidur jam 9 malam. But it is really a good lifestyle, indeed.

Buat teman2, terutama wanita, hati2 kalau pulang malam. usahakan bawa sesuatu seperti peluit, atau pisau kecil untuk jaga2 jika ada sesuatu. Ingat, nggak ada 100% tempat aman di dunia ini, meski itu di rumahmu sendiri. Teringat juga cerita teman di Lampung, kalau istrinya sering diintip tetangganya saat mandi dan ganti baju, ketika teman saya sedang kerja di kantor. Mengerikan sekali. Hati2 aja dengan lingkungans ekitar kita. Dengan apa yang sedang kita lakukan. siapa tahu ada pengintai. Hindari sebisa mungkin jika kamu takut untuk melawan. Menghindar adalah cara yang paling aman buat yang tidak sanggup melawan.
Previous
Next Post »