#NgenesElegan: Everybody is a Social Climber

Pernah dengar tentang social climber? Di jaman sekarang, istilah2 macam2 digunakan, salah satunya adalah social climber. Arti secara harafiah adalah orang yang selalu berusaha untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Biasanya, istilah ini digunakan sebagai hinaan terhadap orang2 yang berusaha untuk mencapat sebuah prestasi. Atau juga, makian yang digunakan kepada orang yang baru saja beralih status, dari status yang dipandang biasa saja menjadi hebat. Tak terkecuali The Duchess of Cambridge, Kate Middleton. Yah, siapa sih yang tidak merasa iri dan dengki apabila ada orang yang biasa2 saja, bukan keturunan bangsawan, tiba2 menjadi istri dari pangeran pewaris tahta? Saya juga iri loh. Tapi, tau nggak sih, kalau kita semua, sejatinya juga seorang social climber?

sumber: http://chatabout.com/answers/for-you-what-is-a-social-climber-and-is-it-good

 Terlalu munafik apabila kita menolak untuk dikatakan sebagai social climber. Karena kita, dari kecil sudah diajarkan untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, bukan? Contohnya adalah, ketika kamu kuliah, tujuannya apa? Jelas, kamu mendapatkan gelar sarjana, bisa bekerja di tempat yang bagus, punya gaji dan penghidupan layak. Kamu, dari yang tidak berilmu sama sekali, menjadi berilmu dan pastinya dari yang sekedar minta penghidupan dari orang tua menjadi bisa menghidupi orang lain. Maka secara status sosial kamu naik tingkat. Masih menyangkal bahwa kamu adalah seorang social climber?

Saya akui bahwa saya juga merupakan seorang social slimber. Saya, dari yang invicible, berusaha sekuat tenaga jauh2 mengadu nasib di negara lain untuk sekedar "dilihat". Dan setiap orang pasti punya keinginan seperti itu. Lalu apa salahnya? Bukankah kita semua menginginkan status sosial dan dianggap dalam komunitas masyarakat, bukan? Lalu, mengapa orang2 melemparkan kata social climber sebagai hinaan terhadap seseorang? Tidak lain tidak bukan karena mereka iri dengan pencapaian seseorang. Tidak bisa disangkal, hinaan dan makian tersebut datang dari orang yang iri, dengi dan tidak terima bila dikalahkan. Iyalah, lha wong sama2 dari kedudukan yg ndlosor koq ujug2 jadi putri, yo sopo sing ora meri?

Contoh lain nyata korban hinaan social climber adalah para2 artis dan selebritis yang berawal dari ajang pencarian bakat. Ya, mendadak terkenal, lalu kemudian berbuat seenaknya, seperti salah satu pemenang kontestas ajang pencarian bakat menyanyi tempo dulu. Tapi, sejatinya, menjadi seorang social climber atau tidak, itu pasti bukan merupakan niat. Iya to? Apa ya ada orang yang niat bener2 mau jadi social climber? Pasti enggak. Emmm.....yaa...mungkin ada, tapi nggak banyak lah ya.

Bahkan, my dearest lapis legit, Oxavia Aldiano pun juga merupakan seorang social climber. Lho, waktu dulu masih ikut audisi ajang pencarian bakat, sedikit orang yang melihat dia. Ah, dan itu awal2 saya melihat dia. Ok, skip bagian itu, nanti saya bisa tergila2 lagi, ada yang marah lagi, bisa diamuk massa lagi. Lantas kemudian dengan Nuansa Bening versi asik dari Mbah Keenan Nasution yang dia bawakan, menjadi sebuah candu bagi para Vidies, lantas kemudian Oxavia mulai dikenal publik. Terus, kuliah ke University of Manchester, yang mana saya pernah hampir dapat LoA juga, universitas nomer sekian atas top dunia loh.Terus, sekarang di usia sangat muda itu, beliau sudah punya beberapa bisnis yang menjanjikan di hari tua. Nah, siapa bilang dia bukan seorang social climber?

Kembali lagi, lha njuk masalahe opo?

Masalahnya adalah, ketika kita bertingkah dengan status sosial kita, maka orang akan menjadi sebal. Ya, saat kita sudah naik status, kemudian belagu, sombong, siapa sih yang akan betah? Wong kita dulunya sama2 ndlosor, kan? Ibarat kacang lupa akan kulitnya. Sayangnya, masih banyak orang2 yang bersikap seperti itu. Bapak saya pernah mengajarkan bahwa, hidup orang itu semuanya ada dalam porsi yang sama. Yang membedakan adalah, waktu, sikap dan pengakuan. Kita sama2 mendaki di jalan yang sama, waktu kita untuk dilihat, kadang berbeda dengan teman kita. Sikap kita menghadapi perubahan status, kadang berbeda dengan teman kita. Dan apakah kita diakui oleh komunitas, kadnag juga berbeda dengan teman kita. Sikap, adalah hal yang sangat penting. Siapkah kita bersikap biasa wae ketika status sosial kita naik? Tak banyak orang yang siap untuk bersikap biasa loh. Coba deh, tanyakan pada dirimu sendiri, adakah perubahan ketika status sosialmu naik? Siapkah kamu menghadapi banyak haters? Jangankan sekelas elit macam my dearest lapis legit Oxavia Aldiano, sekelas ecek2 kayak saya aja haters nya udah duuuh amit2 jabang bayi.

Maka dari itu, kenapa mbak Syahrini yang cetar membahana itu bisa punya haters. Lha wong dia njuk belagu jadi seorang social climber. Wong yang nggak belagu aja banyak hatersnya, apalagi yang belagu? Ya to?

Nah, teman2, jangan sembarangan nge-judge orang sebagai social climber, karena kita sendiri juga merupakan seorang social climber. Ada baiknya, kritiklah sikapnya, perbaiki juga sikap kita kalau2 status sosial kita akhirnya naik. Andhap asor kalau orang jawa bilang mah. Tetap rendah hati, tetap seperti biasanya sebelum ada perubahan di status sosial kita. Karena apa? Tidak selamanya kita bisa menjaga sebuah status, ya kayak pacaran gitu lah. Hidup memang seperti roda, ada kalanya diuncak, ada kalanya tergelincir ke bawah. Jika kita menyikapi hidup kita dengan rendah hati, maka saat kita tergelincir ke bawah, kita tidak akan merasa kaget dan mengalami Post Power Syndrome (PPS). PPS adalah sindrom yang dialamioleh orang2 yang baru saja jatuh status, dari yang menjabat sesuatu menjadi orang biasa. Biasanya, orang2 yg terkena PPS akan rentan galau, emosian, gak betahan, dan ngomel2 karena terbiasa hidup enak, lantas jadi hidup tidak enak. Ngeri kan ya.....

Lalu, sudah siapkah kita menjadi seorang social climber yang baik?
Previous
Next Post »