Ganbaru!!

Entah kenapa melihat video cara mengupas kelapa di facebook tadi mengingatkanku pada sosok Mbah Min. Adik dari mbah buyut saya. Orang yang sampai tua tidak menikah karena buta. Ceritanya, mbah min itu pernah melihat, sampai umur kurang lebih 10 tahun, mbah min menderita panas tinggi hingga menyebabkan kebutaan. Karena kurangnya pengetahuan pada jaman penjajahan dulu, maka mbah mandor, panggilan kesayangan dari bapaknya mbah min dan mbah buyut saya, tidak bisa menyembuhkan mbah min, hingga akhirnya mbah min harus mengalami kebutaan.

Tapi, sepanjang hidup yang saya ingat, mbah min tidak pernah sekalipun menyusahkan orang lain. Beliau jualan minyak tanah, membantu mbah buyut berjualan gebleg dan kue apem di masa tuanya. Saya nggak tau masa mudanya seperti apa. Yang saya ingat saat masa tuanya mbah min sangat gigih berjualan minyak. Bahkan memarut kelapa, menumbuk beras untuk dijadikan tepung, memisahkan kelapa dan kulitnya, membelah kayu pun dilakukan dalam keadaan mata tertutup.

Masih ingat dengan jelas, sesekali hanya minta tolong untuk membelikan bensin untuk isi korek, atau membelikan rokok kretek. Kadang juga meminta tolong dicek batu baterai radionya masih nyala apa tidak dengan peralatan sederhana lampu yang dililit kabel dan koin yang dibuatnya sendiri. tapi saya dulu sering nakal. Kadang sering saya nggak ngasih uang minyak pas kebetulan saya yang melayani pembeli. (Ya Allah ampuni dosa2 saya yang seperti ini....--- Siap2 diomeli bapak kalo baca ini hahaha).

Sampai era penggunaan gas, saat itu minyak tanah semakin langka. Seiring dengan itu pula mbah min semakin menua. Jalannya semakin tak karuan. Tubuhnya semakin melemah. Yang biasanya sering mencuci piring dan menimba air sendiri, kemudian banyak bpiring dan gelas yang dipecahkannya. Semakin lama, semakin sakit2an. Bahkan kemudian pergi tke toilet pun tak mampu duilakukannya dengan benar. Hingga akhir hayatnya, satu keinginan yang masih saya ingat, yang mbah min ucapkan pada saya " Din, (panggilan mbah min untuk saya), omongke mbahmu (mbah putri, ibunya bapak), aku ra njaluk macem2, gur njaluk siji, tolong aku ditukokno anduk anyar wae". (Din, tolong bilang ke nenek, saya nggak minta macam2, tolong belikan saya handuk baru saja". Saya sampaikan pesan itu. Hati saya saat otu trenyuh, tapi saya nggak bisa berbuat apa2. Sampai meninggalnya, saya belum sempat bertemu. Entah, mbah min sudah dapat handuk yang diminta atau belum.

Tuhan, tolong, berikanlah tempat yang terindah untuk mbah min. Semoga saya bisa bertemu dengannya kelak ketika hari yang sudah Kau janjikan tiba. Sampai saat ini, saya masih belum bisa memahami, betapa kerennya melakukan pekerjaan dengan mata tertutup. Betapa tak mengeluhnya ketika diri yang mempunyai kekurangan fatal, namun bisa survive hingga 50 tahun lebih. Bagaimana mbah min bisa mengatasi emosinya ketika tahu dia tidak bisa melihat. Tuhan, bandingkan saya yang masih lengkap sempurna ini masih selalu mengeluh akan banyak hal. Saya yang diberikan banyak kesempatan merasakan indahnya dunia ini, kadang masih suka meminta lebih.

Betapa syukur itu memang gampang dinasehatkan, tapi susah untuk dilakukan pada diri sendiri. Ah..mbah min...semoga mbah min bisa melihat dari alam sana, buyutmu yang nakal ini sedang berjuang, dan akan lebih berjuang lagi. Semangatmu untuk terus bekerja dengan tubuh penuh kekurangan dan keterbatasan itu tak pernah luntur. Maka saya juga akan terus bersemangat. Dan akan lebih bersemangat. Selama mata ini masih melihat, hidung ini masih bernafas, mulut ini masih berbicara, dan telinga ini masih mendengar, tak ada setitik pun hal yang bisa kita keluhkan.

Semangat, Diana......!!!!!
Previous
Next Post »