Sutawan, Iron Man, Hoax dan Media

Teman-teman pasti sudah bnyak sekali membaca di internet tentang Sutawan, bapak paruh baya yang menggagas alat tangan robotik. Di katakannya itu pakai sensor otak dan lain sebagainya. Maaf, saya bukan orang robotik, jadi nggak tau. Sepekan begitu heboh dengan berita ttg Iron Man dari Indonesia dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. Seolah begitu heroik, bahkan para peneliti2 angkuh Indonesia melonjak saking terkejutnya. Lantas sepekan kemudian, berita tuduhan HOAX, analisis2 dari ahli ala2 kacangan bermunculan. Oh men...

Betapa kejamnya Indonesia

Saya pikir, Sutawan adalah korban dari media. Dia yang tadinya adem ayem, menjadi terkenal gara2 media menuliskannya seperti itu. Entah berlebihan, entah itu yang dia katakan sebenarnya. Lantas, media lain memberitakan bahwa itu HOAX. Seperti habis dijunjung ke angkasa, langsung di banting ke neraka. Bahkan dikatain lagi gara2 cuma buat mendapatkan bantuan. Astagfirullah.

Betapa kejamnya masyarakat Indonesia itu.

Lihat, ada orang lumpuh, dia bikin alat bantu UNTUK DIRINYA SENDIRI. Dia yang tak pernah mengklaim atau melebih2kan alatnya di setiap wawancara. Selalu ada kata2 "bisa dicari di internet" atau "bisa di beli di tolo alat2". Dia bahkan adalah seorang tukang las dan tukang rongsok. Apa perlunya dia membuat berita HOAX seperti itu? Apa keuntungannya bagi dia? Dapat bantuan? Saya rasa tidak sepicik itu pemikiran beliau.

Medialah yang membuat konspirasi kekejaman semacam ini.

Dan orang Indonesia adalah sasaran konspirasi, karena sejatinya mereka itu kejam.

Jangankan orang seperti tawan yang hanya tamatan SD, lihat, orang seperti Ricky Elson, Warsito, Bahkan mungkin juga pak Khairul Anwar ataupun pak Josaphat Tetuko juga dulunya merupakan korban kekejaman media berakhir ke kekejaman orang2 di negaranya sendiri. Itulah kenapa banyak sekali ilmuwan Indonesia yang pilih kerja di luar negeri.

Tidak ada penghargaan sama sekali.

OK, baiklah, tidak perlu pakai penghargaan. Namun setidaknya, sentuhlah sisi kemanusiaan dalam nurani mu sedikit saja. Berhentilah menulis berita yang penuh dengan kata2 menarik hanya untuk sebuah tulisan 2 juta rupiah di slip gaji. Berhentilah membuat konspirasi tentang kepandaian seseorang hanya demi popularitas atau tujuan yang entah apa itu. Cukup si yang mulia jonru saja yang begitu.

Media seharusnya menjadi penyambung antara pengetahuan, peristiwa dan opini masyarakat secara jujur, adil, tidak memihak dan terpercaya. Bukan yang seperti penyulut api dalam sekam.
Previous
Next Post »