Belajar Itu Unik

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang2 dengan salah satu dosen UGM, yaitu Bapak Nanung Fitriyanto. Pak Nanung sempat berbicara mengenai belajar komputer. Beliau bercerita, ketika muda, beliau sempat belajar komputer dengan menggunakan sistem DOS, yang populer saat saya masih ada di jenjang sekolah dasar. (Sudah jangan tanyakan umur saya). Lantas kemudian, sistem Windows berkembang pesat. Banyak sekali orang yang belajar Windows yang disebut lebih mudah pengoperasiannya dibandingkan DOS. Namun, rupanya bagi para pengguna DOS, belajar Windows itu susah.

Begitu pula dengan pengalaman yang saya rasakan sendiri ketika duduk di bangku perkuliahan 10 tahun yang lalu. (Sudah, jangan tanyakan berapa umur saya, ngeyel lho!). Ketika Linux mempopulerkan diri. Bagi teman2 saya yang belum begitu pandai mengoperasikan Windows, Linux adalah hal yang mudah. Namun bagi saya yang sudah terbiasa memegang Windows, menjadi terasa membingungkan ketika harus berhadapan dengan Linux. 

Sedangkan, jika kita belajar mengenai science, kita justru tidak akan bisa cepat memahami dengan mudah apabila kita tidak tahu teori dasarnya. Ibarat kata, 6+4=10 adalah teori dasar. Lantas berapa 3n+4=10, berapakah n? Kalau kita tidak mengerti konsep perhitungan dasar, kita ga akan bisa memecahkan nilai n, bukan?

Belajar itu sangat unik, readers. Jika kita belajar bidang, antara satu bidang dengan bidang yang lain, akan menjadi berbeda pendekatan belajarnya. Kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama antara belajar teknologi komputer dengan biologi atau bahasa, bukan? Namun, satu yang sama, bahwa belajar adalah tergantung oleh kemauan. Karena seberapa sulit bidang yang baru, jika kita mau untuk belajar, kita mau untuk melakukan kesalahan, maka akan menjadi mudah.

Pengalaman saya baru2 ini, ketika saya sedang belajar bahasa Jepang, saya mengulang kembali pelajaran yang pernah saya ambil 4 tahun yang lalu. Saya masih ingat betul, bahwa 4 tahun yang lalu, saya benar2 tidak tahu, bahkan diajarkan di kelas pun saya masih belum paham. Hingga kemudian saya ulang lagi minggu lalu, saya baru benar2 paham tentang pola grammar yang saya pelajari. Itu artinya, bahwa ada pola repetisi atau pengulangan dari proses belajar yang wajib kita butuhkan. Oleh karena itu, mengapa guru kita, orang tua kita, pada saat kita kecil, selalu memaksa kita untuk belajar mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di rumah. Saya telat sadar, tapi yah, lebih baik telat daripada nggak sadar sama sekali, kan? Hehe

Kemudian saya berbincang dengan junior saya di kampus di suatu kesempatan. Dia menginginkan untuk fokus kepada satu bidang ilmu. Dari S1, S2 dan nanti S3. Sedangkan saya, dari D3, S1, S2, S3 mengambil hal yang berbeda dari sebelumnya. Komentar dia sangat bijaksana sekali. Dia mengatakan bahwa, masing2 ada titik kelemahan dan kelebihannya. Ketika kita mengambil hal yang sama, maka kita bisa menjadi ekspert di satu bidang. Jadi ilmuwan di bidang itu, expert sekali malah. Namun, kita nggak tahu bahwa ada hal lain yang menarik, ada hal lain yang bisa dikombinasikan. Dan kita nggak ngerti tentang ilmu2 lain. Yang dia rasakan adalah seperti itu. Sedangkan jika kita belajar banyak hal baru, memang kita akan lebih susah dan tidak bisa expert 100% dalam bidang tersebut, namun, kita akan mendapat banyak ide untuk mengembangkan ilmu tersebut dalam sebuah penggabungan yang nantinya kemungkinan bisa menciptakan teori baru. Terima kasih , lho atas elem2annya. 

Tapi, kemudian saya renungkan, betul juga. Bahwa belajar itu benar2 tidak terbatas. Kita bisa belajar apap saja. Kita bisa melakukan hal apa saja, jika tidak terbatas dengan protokoler pekerjaan. Namun, ada maupun tidak ada protokoler kerjaan pun kita akan selalu belajar. Dan memang lebih baik untuk banyak belajar ilmu baru. Bukankah Tuhan itu Maha Luar Biasa?? Kenapa kita tidak tertarik dengan keluarbiasaan Tuhan? Banyak sekali hal yang sebenarnya kita tidak pernah mengerti.

Satu lagi, saya tidak suka dengan Bob Sadino yang selalu bilang bahwa orang goblok bisa sukses. Itu salah! Saya lebih suka dengan om Mario teguh, yang pro pendidikan. Siapa bilang Bill gates itu goblok? Siapa bilang Mark Zukkerberg itu goblok? Mereka genius. Karena mereka belajar. Bukan semata orang goblok tidak berpendidikan, lantas tau2 bisa membuat Microsoft dan Facebook. No!
Mereka belajar. Hanya saja bukan melalui universitas. Tapi, universitas juga penting. Ya keles kamu otaknya segenius Mark, jadi nggak perlu kuliah pun udah pasti bisa sukses. Sadarilah bahwa otak kita pas2an. Bahkan Einstein, kalian kenal kan, readers? Einstein itu adalah seorang Professor loh!!! Yang tentu saja beliau menempuh pendidikan sampai ke jenjang S3!!! Lebih terkenal mana Einsteins ama Mark??? Ya Einstein lah!! Itu adalah bukti bahwa pendidikan itu perlu. Bahkan seorang Mark Zukkerberg dan Bill gates itu adalah orang yang berpendidikan, cuma nggak sampai tamat.

Belajar, belajar itu tidak terbatas. Belajar itu butuh kesabaran, butuh pengulangan, dan butuh kegigihan. Jangan pernah berhenti untuk belajar. karena itulah yang menjadi tujuan kita hidup di dunia. belajar mengenai betapa agungnya ilmu Tuhan. Sama seperti lagu David Archuleta di bawah. Belajar menemukan jodoh ya termasuk belajar juga, hihihi.


Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Azhar
AUTHOR
April 26, 2016 at 9:46 PM delete

Belajar menemukan jodoh ya termasuk belajar juga, hihihi.
nahh mbak, maka menemukan jodoh juga butuh kesabaran, butuh pengulangan, dan butuh kegigihan.
hhiiii

Reply
avatar
Ai Diana
AUTHOR
April 26, 2016 at 10:12 PM delete

hwakakakak, ini menohok sekali komentarmu muahahahahahahahahah

Reply
avatar