If You Were In My Shoes IV

weheartit.com
Setelah seri If You Were In My Shoes 12 dan 3, di seri keempat kali ini saya akan membahas mengenai cerita lain yang akhir2 ini saya temui. Bermodalkan curhatan yang teman saya ceritakan beberapa waktu yang lalu.

Berbicara mengenai hutang piutang, saya termasuk ahli di bidangnya. Maklum saja, saya suka menghutang. Dan berhutang adalah sebuah tindakan yang manusiawi. Setidaknya, ketika kita punya rejeki lebih, kita pun bisa membantu teman lain yang sedang kesulitan, seperti temankita membantu kita ketika kita sedang dalam kesulitan.

Namun, adakalanya kita mendapati situasi yang sangat awkward, atau garuh, rikuh dan apapun perasaannya itu. Ketika dimasa kita harus menagih atau ditagih. Dua-duanya sudah pernah saya rasakan. Maka dari itu, saya tahu persis bagaimana rasa awkward moment itu. Namun, apa yang kita rasakan belum tentu pula mampu dipahami oleh teman yang ditagih, ataupun juga teman yang menagih.

Pada suatu ketika, saya berhadapan dengan situasi ketika saya benar2 tidak punya uang, namun saya diminta oleh teman agar mengembalikan uang yang dipinjam sesegera mungkin. Pernah disuatu kala, saya saking bingungnya, lantas kemudian terbersit pikiran bahwa teman saya itu tega banget karena dia tidak mau tahu keadaan saya yang baru saja kena musibah, harus membayar sejumlah uang untuk banyak keperluan, dan bahkan uang yang ada tidak cukup untuk itu semua. Namun, saya juga pastinya tidak akan tahu alasan dibalik teman saya mengapa menagih cepat2. Karena dia pun tidak mengatakan alasannya. Yang saya tahu, dia tega menagih disaat dia tahu saya sedang benar2 membutuhkan lebih banyak uang lagi. Ya, karena saya tidak berada di posisinya. Dan dia juga tidak berada di posisi saya.

Namun, jika kita mau menelaah lebih jauh, pernahkah berfikir ketika ada di posisi teman saya? 
Tentu saja, saya pernah merasakannya. Ketika saya pun juga bingung ingin menagih uang yang dipinjam teman saya. Saat itu saya memang sedang membutuhkan uang tersebut karena alasan yang benar2 mendesak. Namun, teman saya tidak ada tanda2 untuk mengembalikannya. Sampai pada suatu ketika saya beranikan diri untuk menanyakannya dengan sangat hati2. Pada akhirnya dia meminta maaf karena belum mampu mengembalikan dalam waktu dekat. Maka saya pun menerima alasan tersebut karena rupanya dia juga sedang kesulitan. 

Nah, yang saya rasakan ketika ditagih, adalah pula yang dirasakan orang lain ketika menagih. Tidak enak. Itu pasti. Namun, kita sama2 sedang membutuhkan. Kita juga sama2 sedang tidak dalam kondisi yang menyenangkan untuk membahas itu. Bukan masalah seberapa jumlah uangnya, namun masalah hati dan personalitas. Mungkin saja sang teman sedang tertimpa musibah, namun dia tidak menceritakan. Sehingga kita justru berpikir bahwa dia tidak punya hati. Maka, lebih nyaman jika dikomunikasikan secara baik2. Dari hati ke hati. karena masalah hutang sebenarnya adalah masalah antara hati, bukan antara dompet semata. 

Dari teman saya yang lain, saya belajar bagaimana memanajemen hutang. Dia mengajarkan saya untuk disiplin dalam pembayaran, juga mendisiplinkan untuk jadwal pembayaran. Baik itu ketika saya yang berhutang, atau saya yang menghutangi. Dengan begitu, maka hati menjadi lebih tenang dan tidak terlalu larut dalam situasi tidak enak. Namun tetap saja, apabila ada musibah yang menimpa, alangkah lebih bijak untuk saling memahami situasi satu sama lain.

Begitulah. Terkadang kita hidup hanya berdiri pada satu posisi. Kita tidak pernah bisa berdiri pada kaki orang lain dan merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain saat itu. Yang bisa kita rasakan adalah apa yang orang lain ucapkan. Sampai dengan suatu ketika kamu akan berdiri pada posisi yang sama dengan orang lain, melalui kakimu sendiri. Maka barulah kamu akan mengerti apa yang kala itu dirasakan orang tersebut. Memang mungkin terlambat, namun itu adalah soal pembelajaran tentang hidup.
Previous
Next Post »