Superpower Bullying

Halo readers, lama banget ya saya nggak nulis sesuatu dari hati hehe. Kali ini, saya akan menulis tentang bullying. Gara2 minggu ini nonton ajang Miss Universe, salah satunya Miss Universe 2015 yang bisa ditonton di bawah ini.


Nah, tapi, masalahnya, berbagai kontroversi malah datang menghinggapi Miss Universe 2015, Pia Alonso Wurzbatch dari Filipina. sekedar refresh, dan bisa di tonton di video di atas, Steve Harvey sang pembawa acara melakukan kesalahan fatal saat membacakan pemenangnya. Namun, kasus berkembang malah banyak yang membulli Pia yang dituding merebut mahkota Miss Universe dari Miss Colombia, Ariadna. Padahal, sudah jelas-jelas bahwa juri pun memilih Pia sebagai pemenang alias Miss Universe 2015.

Salah satu yang vokal menentang Pia adalah Miss Germany dan Miss Australia. Mereka bahkan menyebut Pia adalah perampok. Bisa dilihat di video2 terkait. Alhasil, Pia banyak dibulli oleh banyak orang. Padahal, sudah jelas, seharusnya Pia lah yang patut untuk marah dan bersedih, karena hasil yang seharusnya memang dari awal ditakdirkan untuknya harus direbut beberapa menit oleh kontestan lain. Pia padahal sudah berbesar hati menerima sebagai Runner Up pertama. Bahkan ketika Miss Universe 2014, Paulina Vega mau menukar karangan bunga yang seharusnya untuk juara 1 nya, Pia dengan rendah hati malah menolak dan membiarkan Ariadna memegang karangan bunga pemenang tersebut. Tapi, malah justru Pia yang ketiban apes.

Saya sebut ini adalah superpower bullying. Dimana bahwa orang yang berkuasa, orang yang mempunyai kekuatan bisa melakukan apasaja sekehendak hatinya, untuk menekan yang lemah meskipun yang lemah itu benar. Kita bisa lihat dari tayangan tersebut, bagaimana yang sebenarnya terjadi, namun karena Miss Colombia temannya itu Miss2 dari negara kuat seperti Australia, Jerman, negara2 Eropa dan Amerika Latin lainnya, sedangkan Pia dari Filipina, aduh temannya sudah pasti negara2 kecil Asean macam Myanmar, Thailand, satu2nya negara besar teman Pia adalah Miss USA, Olivia Jordan. Dan meskipun Pia adalah pemenang berdasarkan hasil penilaian juri pun (sudah berkali2 di konfirmasi oleh Juri, termasuk Perez Hilton yang ngomong di media), namun Pia tetap saja dikatakan tidak layak, dan perebut mahkota dari Ariadna.

Seperti itulah Superpower Bullying. Yang vokal, yang punya pengaruh kuatlah yang bisa menekan yang lemah. meski yang lemah itu benar. Padahal, jika saja Ariadna mau menerima dengan lapang dada, pasti akan berakhir lebih indah. Namun, apa daya, kebencian sudah mendarah daging. Mau tidak mau hal ini mengingatkan saya pada peristiwa kurang lebih 2 tahun yang lalu. Saat teman saya Morgan mengunjungi saya di Gifu.

Saat itu, saya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa orang disini. Cerita bermula dari sebuah grup yang biasa membagi personel untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan tiap bulannya. Saya yang saat itu sedang repot, di suatu waktu menghubungi koordinator, sebut saja A, meminta beliau untuk tidak mengikut sertakan saya dalam pekerjaan tersebut bulan depan, karena saya sedang ada target untuk diri saya sendiri. Beliau mengijinkan saya untuk tidak ikut di bulan berikutnya. Saya pikir kasus selesai. Ternyata, saya baru ngeh setelah mepet bulan terakhir di bulan selanjutnya itu, ternyata nama saya masih ada, dan saya belum dan sama sekali tidak bisa menuntaskan pekerjaan itu dalam waktu hanya beberapa hari. Alhasil, saya minta kepada salah satu teman, sebut saja B, untuk membantu saya. Dan B menyanggupi. Saya pikir aman.

Tiba2 keesokan harinya, mak dhaaarrr, ada kasus. Berawal dari saya mengomentari status sosmed salah seorang teman laki2, sebut saja C, karena status tersebut bagus mengenai nasehat agar kita jangan suka mengadu domba. Eh ternyata dia membalas komentar saya dengan tuduhan tidak menyenangkan. Ya, saya dituduh mengadu domba. Kemudian saya tanyakan lewat jaringan pribadi, maksudnya apa. Dan balasan dia adalah menanyakan tentang apa yang saya lakukan kepada salah seorang teman, sebut saja D. Saya bingung, dan saya tanyakan langsung kepada D apa masalahnya. D menjawab dengan nada marah perihal saya yang mengatakan pada B bahwa saya bilang ke D untuk tidak ikut kerja di bulan itu, padahal D sama sekali tidak mendengar apa2 dari saya. Saya makin bingung.

Saya lantas menghubungi B untuk menanyakan. Sebelumnya saya cek betul chat saya kepada B, memastikan apakah saya yang salah tulis seharusnya A menjadi D atau memang B yang salah berkata. ternyata, tidak ada yang salah pada chat saya sebelumnya. Saya mengatakan pada B bahwa saya meminta ijin kepada A selaku koordinator untuk tidak mengikut sertakan saya. Rupanya, D ini adalah pembagi tugas personel. Saya tidak tahu itu. Tapi saat itu, saya pikir karena saya sudah ijin koordinator, jadi saya pikir sudah disampaikan koordinator sebelumnya. Dan jawaban B sedikit mengecewakan saya saat saya berkata bahwa D marah2 pada saya. B mengakui bahwa beliu salah sebut nama, tapi sudah diklarifikasi, karena ada A juga disana. Dan memang saat itu reaksi D langsung marah seketika, namun sebentar saja. B bilang saya terlalu sensitif menanggap D marah. Padahal, D memang marah. Terbukti, dia bercerita kepada C hingga C mengunggah status di sosmed dengan tuduhan adu domba untuk saya. Dan berbagai kata2 tidak menyenangkan lain saya dapat dari C dan D pada saat itu. Tapi, yaa...siapa sih saya, saya tidak punya teman. Dan saat itu, semua chat terkait, hanya kepada Morgan, teman saya, saya tunjukkan semuanya.

Kasus berlanjut dengan arahan C yang meminta saya bertemu dengan A, B dan D untuk klarifikasi kalau memang saya tidak ada niat untuk adu domba. Oh, demi Malaikat yang berdzikir pada Tuhan, saya tidak ada niat sedikitpun untuk itu. Bukankah itu hanya kesalhan sepele? B salah sebut A menjadi D, wajar bukan? Kenapa harus diambil serius sekali? Sampai2 saya dituduh mengadu domba antara A, B dan D.

Kemudian, hari minggu, seperti kesepakatan di chat, kami akan bertemu di masjid. Dan hari minggu saya datang. Karena saya benar. Saya tidak salah. Saya sebelumnya juga sudah menghubungi A, bahkan saya minta maaf apabila pihak2 tersebut merasa saya adu domba. Tapi, jawaban A justru sebaliknya. A bilang tidak ada yang merasa diadu domba, ini cuma salah paham kecil biasa. A malah bertanya kenapa jadi serius banget. Saya katakan jujur bahwa saya dapat tekanan dari C dan D. A memberi saya support pada saat itu. Dan di hari minggu, saya bertemu langsung dengan A dan B. Namun rupanya D tidak datang. Padahal, dia yang pada saat itu menentukan hari dan jam. Kemudian saya datangi rumahnya untuk bicara langsung. namun saat saya datang, yang membukakan pintu justru C, saya terkejut. C bilang D sedang tidak ada di rumah. Ya sudah, saya lantas pulang ke rumah. Tapi, rumor terlanjur beredar bahwa saya mengadu domba D dengan A dan B. Komentar2 pedas pun saya sering dengar dan baca. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya saya tidak bersalah disini. Saya tidak melakukan hal yang salah. Oh, salah saya adalah saya tidak tahu bahwa yang membagi tugas itu D bukan A. Tapi ya sudahlah. Saya kemudian melupakan kasus itu dan tetap menyendiri seperti biasa.

Superpower Bullying. Dimana orang yang berkuasa, orang yang berpengaruh dan punya banyak teman, bisa menekan yang lemah. Whether it's wrong or right. Banyak sekali kasus2 superpower bullying ini. Hanya ada satu cara untuk menghentikannya. Vokal!! Stand UP!! Kalau memang kamu benar, beranikan dirimu untuk melawan!!! Jika kamu merasa sendirian, jangan takut! LAWAN!! Karena ada Tuhan yang mengetahui yang sesungguhnya. Jika kamu kalah pun, jangan bersedih hati, biarkan Tuhan yang mengobati lukamu dengan kesuksesan dan rejekimu melebihi mereka.

STAND UP FOR BULLYING!! 
STOP BULLYING!!
Previous
Next Post »