Berlatih Berbahasa Formal: Antara Kesopanan dan Penghargaan

Beberapa hari yang lalu, di salah satu media sosial yang berwujud burung biru, saya secara tidak sengaja melihat retweetan teman saya. Sebuah tweet yang mengeluhkan jawaban dari seorang Public Relation dari sebuah Kementrian terhadap pesan Whatsapp salah seorang Wartawan Metro TV. Dimana jawaban dari sang PR menurut sang wartawan menjadi sangat arogan. Kemudian, saya baca, saya telaah, dan saya iseng komentar bahwa mungkin sang PR berkata begitu karena sang wartawan kurang menulis dengan bahasa yang formal. Kemudian, dengan sisa-sisa emosi, sang wartawan membahas kicauan saya dengan mengatakan bahwa penggunakaan kata "saya" pada pesan yang dikirimkannya merupakan bahasa paling formal dari kata "aku". Namun, bukan itu yang menjadi perhatian saya.

Ketika sang wartawan menuliskan kata "aja", "mau", "nanya", itu yang menjadi penekanan saya, bahwa bahasa beliau kurang formal. Oleh karena itulah, saya berfikir bahwa sang PR menjadi agak berang kemudian membalasnya dengan nada yang dianggap arogan oleh sang wartawan. Namun, ketika saya mencoba mengingatkan sang wartawan, sayang sekali, tidak ada kesan untuk memperbaiki diri dan malah terus menyalahkan sang PR. Tapi, yasudahlah, itu urusan dia. Saya nggak mau ikut campur. Tapi, saya ingin membagi kepada readers semua, bahwa bahasa formal itu sangat penting. Memang sangat merepotkan untuk menulisnya, namun, percayalah, dengan berbahasa formal, kita bukan hanya menghargai orang lain, tetapi juga membuat diri kita dihargai oleh orang yang kita kirimi pesan.

Mungkin akan berbeda cerita, jika sang wartawan menuliskan kata:

" Selamat Sore, Ibu. Saya XXX dari Metro TV News. Saya ingin menanyakan, apakah masih bisa mendaftar ke Wxxx? Saya bertugas di pos Kementrian X, dan saya berencana ingin meliput bilateral dengan Ibu/Bapak Mentri saja. Terima kasih sebelumnya. "

daripada pesan aslinya yang

"Sore mbak XX, saya XXX dari Metro TV News, mau nanya apa masih bisa daftar WIEF? Saya pos Kemntrian XX, jadi mau liput bilateral Mentri aja. terima kasih sebelumnya :)"

Jika saya yang menjadi PR, maka saya pasti akan menjawab pesan  bahasa formal dengan nada baik2 dan sopan juga. Sedangkan pesan asli, mungkin terdengar lebih friendly, namun, jika ditujukan kepada seseorang yang belum dikenal baik, maka akan menjadi sebuah pesan yang "kurang ajar".

Di akademisi, berlaku lebih mengerikan lagi masalah penggunaan bahasa formal ini. Saya punya banyak sekali pengalaman berkaitan dengan bahasa formal. Baik itu dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa Jepang. Dan apa yang menjadi patok ukur saya untuk selalu menggunakan bahasa formal dalam mengirim pesan, terutama kepada pejabat, orang lebih tua, maupun orang2 di akademia. adalah ketika salah satu dosen saya, Bu Komariah, mengeluhkan tentang mahasiswa yang mengirim email dengan gaya bahasa friendly untuk masalah akademisi. Beliau berkata, bahwa tidak baik menggunakan bahasa seperti itu kepada dosen, pejabat, maupun orang yang belum kita kenal.

Saya kemudian teringat pepatah lama jawa, ajining diri soko lathi. Bahwa kita dihargai dari apa yang kita ucapkan (tuliskan). maka, apabila kita ingin dihargai, hendaklah kita menghargai orang lain. Orang lain akan membalas hal yang sama dengan apa yang sudah kita lakukan.

Akan berbeda cerita jika sang wartawan sudah menggunakan bahasa formal, lalu jawabannya seperti itu. Maka, patutlah dia untuk marah. Namun, sebaiknya, ini menjadi pelajaran untuk kita, bahwa bahasa itu sangat penting. Mari kita berlatih membiasakan diri menggunakan bahasa formal dalam emngirim email, atau pesan kepada orang yang "diatas" kita. Bukan hanya untuk menghormati mereka, tetapi juga untuk menghormati diri kita sendiri.
Previous
Next Post »