Manusia adalah Makhluk Peniru

Lagi-lagi saya harus menulis mengenai Mario Teguh. Tapi kali ini mengenai isu plagiat atau peniru. Gara-gara postingan dari instagram nggak penting tentang seorang netizen yang menuduh beliau sebagai peniru. Lantas si om mengunggah postingan seperti ini sebagai tanggapan. Dan saya pikir, itu merupakan jawaban yang sangat brilian. Memang koq ya, kualitas orang yang dibulli itu pasti selalu lebih tinggi daripada orang yang membulli.

Image result for mario teguh peniru
wowkeren.com

Saya sempat membahas mengenai plagiarism dan sebangsanya disini. Tapi kalau bicara masalah Mario Teguh yang meniru...hmmm...tidak bisa lantas publik memberi punishment. Karena beliau bukan seorang scientist atau seorang penulis yang karyanya dibukukan atau diterbitkan. Beliau adalah seorang motivator. Dan memang seharusnya motivator bekerja untuk memotivasi. Darimana kata-kata motivasi didapat? Ya tentu saja dari manapun. Dari pengalaman sendiri, juga pengalaman orang lain. Dari perkataan sendiri, hingga perkataan orang lain. Itu sah saja. Karena tidak akan pernah terjadi gugatan untuk hal itu. Lain halnya, apabila Mario teguh adalah seorang penulis seperti mbak yang saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Dan kasus seperti yang dialami mbak itu memang patut untuk diperkarakan.

Namun, berbicara masalah tiru meniru, manusia memang diciptakan sebagai makhluk peniru. Sejarah membicarakan bahwa kasus peniruan yang pertama adalah jauh bermilyar tahun yang lalu. Tepatnya ketika anak Adam (benar-benar anak Nabi Adam) yang baru saja membunuh saudaranya karena iri, lantas kemudian kebingungan apa yang harus dia lakukan dengan mayat saudaranya itu. Lantas Tuhan memberikan dia contoh kepada seekor burung gagak yang menguburkan burung gagak lain di tanah. Kemudian ditirulah perbuatan burung gagak tersebut. See, manusia memang diciptakan untuk meniru sesuatu yang diajarkan oleh Tuhan melalui alam semesta ini, bukan?

Contoh lain adalah perkembangan tren fashion. Apakah tren itu berkembang dengan sendirinya? tentu saja tidak. mengapa sebuah gaya bisa menjadi tren? Itu karena ada banyak sekali orang yang meniru sebuah gaya seseorang atau sesuatu. Lantas apakah si empunya gaya bisa menggugat? Tentu saja tidak. Dan apakah publik yang tidak suka dengan gaya mampu menggugat? Tentu saja tidak. 

Kita beranjak ke contoh yang agak berat. Seorang penulis, seperti tere Liye, apakah langsung menemukan gaya menulisnya? Tentu saja tidak. Dia pasti akan banyak sekali membaca tulisa dari para penulis terdahulu, lalu meniru, sampai kemudian menemukan gayanya sendiri. Seperti para pecinta Pidi Baiq yang kerajingan cerita Dilan, hingga kadang menuliskan kalimat puitis di status media sosialnya. Bahkan, orang sekelas peraih Nobel, Prof. Yoshinori Ohsumi pun pasti akan meniru tulisan dari authors yang satu bidang dengannya pada saat beliau sedang menyelesaikan PhDnya. Saya berani bertaruh soal itu.

Lalu ini, hanya seorang Mario Teguh, yang meniru ucapan-ucapan motivasi dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, diperkaraan oleh etizen yang..ah...entahlah. Saya hanya tertawa. Seharusnya, dia juga menggugat para Ustad karena telah menirukan dalil-dalil Al Quran. Oh satu favorit saya tentang motivasi dari mario Teguh adalah "wanita baik untuk pria yang baik dan begitu juga sebaliknya". Memang, beliau meniru. Surah An Nur ayat 26. Lantas apakah Tuhan akan menggugat para ustad??? 
Previous
Next Post »