Susi Pudjiastuti, Pahlawan Masa Kini

10 November merupakan hari pahlawan bagi Indonesia. Dan tidak dipungkiri lagi bahwa hampir semua orang lantas "merayakannya" dengan menuliskan status di media sosialnya. Sebuah kondisi yang kekinian sekali. Lantas, sebagian dari mereka flash back kepada perjuangan Cut Nyak Dien hingga Pattimura. Sebagian dari mereka akan mengenang hasil-hasil pemikiran Sukarno-Hatta hingga KH. Agus Salim. Sebagian dari mereka terinspirasi semangat membara dari Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo dalam merobek bendera Belanda sebagai simbol keberadaan NKRI. Dan sebagian dari mereka menyebut orang tua sebagai pahlawan sejatinya.

Sah-sah saja sebetulnya bagi siapapun untuk mengidolakan pahlawannya masing-masing. Sama halnya dengan saya. Saya juga punya pahlawan idola saya, dan terinspirasi dengan perjuangan beliau.

Susi Pudjiastuti.
from wikipedia


Kita semua mengenal beliau sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan yang mempunyai karakter dan pribadi yang unik sekali. Kita semua tahu, Ibu mempunyai bisnis eksportir pengolahan ikan, dan juga Susi Air yang didirikan pada tahun 2004. Kita semua juga tahu bahwa Ibu hanyalah seorang lulusan SMP.

Saya belum pernah bertemu dengan Ibu. Namun saya sering kepo tentang kiprah Ibu dalam pekerjaannya sebagai seorang mentri. Saya juga kepo mengenai kiprah ibu dalam bisnisnya sebelum menjadi mentri. Saya masih terkesima dengan segudang kebijakan beliau untuk menaikkan ekonomi Indonesia melalui pemasaran produk laut Indonesia. Contoh sederhana nyata saja, di Jepang, awal pertama saya datang, belum pernah saya melihat banyak sekali udang merk Indonesia di supermarket di kota-kota kecil. Ada pun, sesekali. Kebanyakan berasal dari Filipina, Thailand, China, Vietnam. Namun, semenjak Ibu menjadi mentri, wah, itu udang dengan box besar bertuliskan Indonesia bisa banyak sekali ditemukan di supermarket kota kecil. Itu hanya satu contoh kecil saja. Mungkin kebetulan, namun saya yakin ini adalah efek domino dari kebijakan-kebijakan Ibu untuk menaikkan pamor hasil laut Indonesia.

Aksi Ibu menenggelamkan kapal asing yang melaut ke Indonesia? Super sekali. Mentri yang lalu tidak berani begini. Atau, mentri mana deh, di negara lain yang berani berbuat nekat seperti Ibu? pasti tidak banyak, bukan.

Susi pudjiastuti itu pahlawan, setidaknya bagi saya.

Kita saat ini hidup bukan di jaman peperangan dengan negara penjajah. Juga bukan hidup dimasa kita ingin membentuk negara yang merdeka. Kita hidup di jaman yang serba ada. Jaman dimana internet merupakan hal dasar kebutuhan sebanding dengan sandang, papan dan pangan. Jaman dimana kita bisa duduk mengomel tentang kejadian sinetron GGS di tivi. Jaman dimana anak-anak muda mempunyai banyak peluang beasiswa ke luar negeri.

Ibu putus sekolah dan mulai berbisnis ikan dan memperjuangkan nasib nelayan kecil di Pangandaran. Bukankah ini sama dengan yang dilakukan para pahlawan seperti bung Karno, dan Bung Hatta dan penggagas kemerdekaan lainnya?

Ibu membangun Susi Air bukan semata karena bisnis, atau pencitraan supaya beliau menjadi mentri. Tapi karena alasan kemanusiaan. Karena masih banyak sekali daerah-daerah kecil yang sebenarnya potensial, namun karena keterbatasan akses, sehingga harus rela tidak berkembang. Bukankah ini sama dengan yang dilakukan para pahlawan kita mengatasi ketidak adilan?

Dan sekarang, Ibu berperang melawan mafia laut, dari bajak laut sesungguhnya hingga bajak laut berdasi. Menenggelamkan kapal secara heroik sebagai bagian dari perang atas penjajahan negara tetangga yang melanggar kedaulatan Indonesia dengan cara menjarah hasil lautnya. Bukankah itu sama dengan yang dilakukan oleh para pahlawan jaman penjajahan Belanda dulu seperti Sisinga Mangaraja, Jendral Sudirman, Cut Nyak Dien dan sebagainya?

Ayolah. Kita sudah bukan lagi ada di tahapan dimana harus terus bercermin dan merindukan sosok seperti pahlawan pendahulu. Kita akan selalu mengenang jasa-jasa mereka atas berdiri tegaknya NKRI. Namun, jangan sampai kita lupakan, bahwa banyak sekali pahlawan kekinian seperti Ibu Susi Pudjiastuti. Sudah saatnya kita fokus kepada apresiasi terhadap pahlawan-pahlawan masa kini. Saya yakin, Ibu juga tidak mengharapkan untuk mendapatkan predikat sebagai pahlawan. Tapi, setidaknya, ini adalah penghargaan kita, orang-orang yang dibela nasibnya, diperjuangkan kenyamanannya oleh Ibu.

Dan satu lagi, mengapa Ibu adalah pahlawan kekinian di mata saya.

Ibu adalah satu-satunya mentri yang hanya berijasah SMP di Indonesia. mengalahkan yang bergelar Doktor dan Profesor. Artinya adalah, bahwa Ibu juga memberikan harapan bagi anak-anak yang putus sekolah, untuk terus berjuang dan berkontribusi terhadap negara dan bangsa. Ibu menunjukkan harapan bagi mereka yang mungkin berfikir sudah tidak punya harapan untuk menjadi sukses di masa depan. Tapi, berkat Ibu, mereka bisa dengan penuh semangat berkata, "Tidak apa-apa saya sekarang putus sekolah. Suatu saat, saya pasti bisa berkontribusi seperti Ibu Susi".

Susi Pudjiastuti. Pahlawan masa kini di mata saya. Namun saya yakin, banyak sekali di luar sana orang-orang yang berfikiran sama dengan saya.

Selamat Hari Pahlawan.

Gifu, 10 November 2016
Previous
Next Post »